Angin siang ini ribut sekali hampir menerbangkan terpal hijau yang menjadi atap Angkringan di pinggir trotoar Tamsis, di tambah terik yang menyengat siapapun yang tak punya perlindungan. Asapa mengepul disudut meja angkringan, ya itu dari arang baunya terasa bersahabat seperti bau setrika tempo dulu. Sengatan semakin panas berbeda dengan tempat makan amereka yang berdiri gagah disamping belakang angkringan, didalamnya ber AC pembelinya pun pakai mobil. "Mbak, tambah toyo petak malih, rasane ngorong tenan." Aku hanya mengamati gelagatnya mencoba menerka siapakah dia, sekilas mirip indro tapi berbeda nasib, ahh memang nasib susah ditebak seperti hari esok yang misteri, "niki, ditambah gulo mboten". "Sampun, toyo mawon, ngorong niki." Aku pikir tukang parkir, karena sesekali ia menikmati esteh yang sudah habis ditimpa dengan air putih sambil mengobrol tentang motornya dengan tukang ojek online, ada hasrat ingin pindah dari raut wajah. "Nanti anakku wae...