Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

gumam

Memulai kisah baru dengan setumpuk formalitas yang kaku, laku sopan tak lagi menjadi prioritas apalagi kejujurun yang memang langka. Semuanya yang penting sesuai prosedur yang seringkali bertentangan dengan adat. Bagaikan minum pil pahit, sepahit apapun itu harus dijalani, hasrat ingin sekali menentang terhadap situasi ini, namun belum ada opsi. Kita anak malang yang di lepas tanpa bekal, dengan tumpukan tuntutan yang wajib di lakukan, sekali lagi hasrat menolak, namun belum ada opsi. Apakah jalan yang yang aku lalui sama, berjalan tanpa menghiraukan apa yang aku jalani, berfikir kritis tak ada arti, menjalanipun penuh rugi. Pengabdian ataukah penghambaan pada kampus? Semuanya ceria menjalaninya dengan harapan dapat nilai lebih dari sana. Tapi apa nilai lebih, toh tiap hari hal seperti itu dilakukan oleh aku yang kelas bawah.

sakit

Kata orang sakit itu tanda kasih sayang dari tuhan. Sejenak aku berfikir, adakah perwujudan kasih sayang dengan sakit, bukankah itu tanda "kebenduan". Perkataan itu aku renungkan sampai berhari-hari, tak kunjung juga aku temukan jawabannya secara logis. Tiba-tiba aku teringat dengan kisah eyang Fir'aun raja mesir yang diktator, dengan sistem monarki absolud, saking absoludnya sampai ia mengaku bahwa dirinya tuhan. "Apa tidak gila". Ya itulah kegilaan yang dibenarkan oleh rasa takut yang menyelimuti benak seluruh manusia di bawah kekuasaan Fir'aun, ya kecuali Isa. Kisah eyang Firhaun menjawab pertanyaanku, ia yang tak pernah sakit, pilekpun tak pernah. Sampai ia mengaku tuhan dan ingin disembah. Itulah kenapa sakit itu merupakan kasih sayang tuhan kepada manusia, karena sakit itu merupakan teguran ringan dari tuhan. Kalau kita masih di tegur berarti masih diperhatikan. Berbeda dengan Fir'aun.

wajah ibu kota, kemarin

Ibu kota kemarin cerminan absennya kemanusiaan. Piala kekuasaan menggiyurkan Menerjang pekerti demi tercapainya kursi kekuasaan. tuhan yang di seret kejalan kegilaan menjadi keharusan. Mencaci, menghujat bahkan melaknat siapapun yang beeseberangan. Polis menjadi figur keadaban di coreng dengan arang kenistaan. Rombongan semut, kecoa, tikus dan sekawanan satu galak menuju satu titik penyingkiran. Boikot sana-sini Dan memberikan janji surgawi Katanya, Ada 72 bidadari yang menanti Yang siap memuaskan birahi. Kenapa rasa welas asih mereka hilang Apa karena kekuasaan hingga semuanya hilang kesadaran. Semoga, kelak tidak diulangi lagi Mematikan lawan dengan menebar benci. Pakailah nurani Demi masa depan negri

perjalanan

Sebuah perjalanan panjang itulah kehidupan, menapaki jejak terjal peradaban dengan kaki telanjang, terkadang tertusuk duri racun dari kebohongan sejarah. Menyangga kehidupan agar tak punah, berpacu dengan cepatnya waktu yang menyeret semua tanpa ampun, yang menang menginjak yang kalah menjadi sampah dan yang tidak keduanya hanya bisa menyanyi sunyi. Bagai sungai mengalir kedalam lautan pertarungan itulah hidup, berbekal akal, budi dan keyakinan kuat menyongsong masa depan. Kekacauan akan selalu ada, dengan itu peradaban baru tercipta. Perjalanan kehidupan membutuhkan tumbal sebagai sesaji kebaharuan sampai saatnya nanti sangkakala isrofil ditiup, dan semuanya akan hancur, luluh lantah menjadi kepingan atom bahkan proton. Dan yang tak hancur adalah keyakinan.

tentang laut

Angin berhembus dingin Menerpa jatuh daun kering Ombak berkejaran merebut tepi Menghapus sepi Samudra biru luas bagai tanpa tepi Menenggelamkan matahari Gelombang ombak yang tak pernah lelah menuju tepi Menghancurkan istana pasir dan potongan kenangan Gemuruh ombak menghantam karang memacu layar menuju impian

otw

Otw menuju tanah seberang, disana aku mulai berkenalan dengan perjuangan kelas, emansipasi, dan isme-isme yang lain. Pada dasarnya itu semua sudah ada dalam keseharian manusia baik di kota ataupun di desa. Benar apa yang di katakan plato, manusia itu bukan menciptakan tapi menemukan yang sudah ada. Cukup lelah, dan menjelang magrib ahirnya sampe juga, setelah di dalam bus hanya mata yang menerawang jauh menerobos lewat jendela. Memandangi pohon yang saling mengejar, riuh klakson karena macet, ramai gerutu penumpang yang berdiri penuh caciki, karena kesumpekan membuat akal tak berjalan, maklum masih suasana mudik. Dan sekarang aku memilih berhenti di depan pasanggrahan yang di himpit oleh megahnya plaza dan hotel berbintang lima. Di depan sini aku menunggumu

takut

Rasa takut merupakan sifat dasar alamiah manusia, setiap orang memiliki perasaan itu. Ada yang takut miskin, takut jomblo, takut sendiri, takut gelap, takut masa depannya kacau, takut hantu. Dlsb. Walaupun dimiliki oleh setiap manusia, rasa takut melekat pada individu dengan kadar dosis yang berbeda. Saya termasuk orang yang sangat takut dengan bayanganku sendiri, ntah itu merupakan ketakutan atau kecemasan, karena rasa takut itu merupakan ancaman dari eksternal, seperti takut pulang, karena kalau pulang akan di tangkap polisi. Untuk mengatasi rasa takut harus di latih, kata Pram " keberanian itu seperti otot, jika sering di latih maka otot akan kuat, dan jika tidak di latih akan mengendur". Rasa takut walaupun tidak bisa hilang harus di minimalisir, latihannya harus siap menghadapi kenyataan, hadapi dengan jantan dengan dada lapang, dan berkata aku siap menghadapinya,--jangan malah "mlipir keluar negri, sampai lebaran gak pulang-pulang. Pesan Pram kepada kita ...

tokek

Jika bintang mulai bertebaran ketakutan datang menyapa lewat semilir angin malam, membawa hawa merinding menguliti tengkuk leher, suara jangkrik dan lolongan anjing memainkan kengerian pada sepinya malam, lewat suaranya yang menurut orang dapat memanggil arwah. Sedangkan rasa lapar tak bisa selamanya diajak puasa. Tarjo yang sejak remaja memilih profesi sebagai pencari reptil. Ia selalu berjalan di balik gelapnya malam demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecilnya. Tok...tokkk...tokkekkk, suara itu nyaring di balik kulit kayu yang menua di makan usia, bunyinya panjang, nyaring, dan agak serak. "Sepertinya ini tokek langka, yang mungkin bobotnya 3 kg" pikir tarjo sambil berjalan kearah coleteh tokek itu berasal. Memang sekarang tokek di buru banyak orang terkusus tokek yang beratnya 3 kiloan, harganya bisa mencapai jutaan. Maklum, tokek itu bisa di buat ramuan jamu untuk segala macam penyakit, termasuk jamu "tolak lupa" Di dekat permpatan kecamatan, ada pasa...

lelaki paruh baya

Setiap raut wajah menyimpan berjuta kisah. Sewaktu mudik, di dalam bus aku duduk bersebelahan dengan lelaki paruh baya, kira-kira usianya 40 tahunan. Ia terlihat murung matanya sayup wajahnya penuh goresan kisah. Aku memulai percakapan" turun mana pak?" Ia agak terkejut karena tiba-tiba aku membangunkan lamunannya. "Turun Rembang dek", owalah berarti kita sama, pikirku, belum sempat kata-kata itu terkatan lewat bibirku karena terkadang sulit organ tubuh menuruti kemauan otak. Ia langsung menyambungya, "terus ambil jurusan Blora". Panaroma pantai utara berderet prahu nelayan bergoyang digoncang ombak, sekilas aku mengalihkan pandanganku melihat indahnya senja bersimpuh di pantai. Sebentar lagi aku akan sampai di tempat gadis pantai dalam kisah Pram, impian seorang gadis yang direnggut oleh budaya kolot feodal. Kemudian lelaki itu bertanya"kalau masnya turun dimana?" Dengan suara agak serak seperti habis menagis. "Aku turun di Pandangan, ...

ketupat, simbol ramah

Rasanya "karipan", mataku masih ngantuk teklak-tekluk, semalam begadang sampe pagi dengan keluarga rame-rame membuat ketupat dan lepet. Hidangan tersebut paling nikmat kalau dimakan bersama-sama, ditempatku bisanya dimakan bersama tetangga sekitar di mushola, ada juga yang dibawa kepantai untuk disantap ramai-ramai. Seru kan, guyup rukun agawe sentosa. Proses pembuatannya juga sangat seru, karena di buat bersama, bukankah kebersamaan adalah kebahagian yang tak ternilai yang sekarang sudah sepi karena di grogoti oleh ego pribadi. Kami semua bisa membuat kedua makanan itu, dari kecil tradisi membuat kedua makanan tersebut sudah diwariskan. Awalnya aku males banget buat kayak gituan ribet sekali, harus manjat pohon kelapa untuk mengambil "janur" kemudian menganyam hingga berbentuk segi empat, dan lepet yang lonjong. Ribet kan, belum lagi masaknya berjam-jam. Ketupat paling uenak kalau pakai daun lontar, rasanya kayak ada manis-manisnya gitu, di tambah opor...