Setiap raut wajah menyimpan berjuta kisah. Sewaktu mudik, di dalam bus aku duduk bersebelahan dengan lelaki paruh baya, kira-kira usianya 40 tahunan. Ia terlihat murung matanya sayup wajahnya penuh goresan kisah.
Aku memulai percakapan" turun mana pak?" Ia agak terkejut karena tiba-tiba aku membangunkan lamunannya. "Turun Rembang dek", owalah berarti kita sama, pikirku, belum sempat kata-kata itu terkatan lewat bibirku karena terkadang sulit organ tubuh menuruti kemauan otak. Ia langsung menyambungya, "terus ambil jurusan Blora". Panaroma pantai utara berderet prahu nelayan bergoyang digoncang ombak, sekilas aku mengalihkan pandanganku melihat indahnya senja bersimpuh di pantai. Sebentar lagi aku akan sampai di tempat gadis pantai dalam kisah Pram, impian seorang gadis yang direnggut oleh budaya kolot feodal.
Kemudian lelaki itu bertanya"kalau masnya turun dimana?" Dengan suara agak serak seperti habis menagis.
"Aku turun di Pandangan, pak" jawabku sopan. Ia ternyata juga tahu daerah pandangan. Katanya"Pandangan itu yang kalau sedekah laut pasti datengi group dangdut MONATA ya? "Ia, pak, kadang juga PALAPA, ko bapak tau".
"Saya sering beli kaset dangdut koplo, ada tulisannya "sedekah laut. Desa Pandangan, Kragan, Rembang."
Sontak aku tertawa, aku pikir dia pernah berlayar atau punya saudara di Pandangan, eh ternyata, gara-gara dangdut.
Bus melaju kencang memburu malam, pria separu baya itu crita banyak tentang dirinya yang baru di tinggalkan istrinya. Miris, kesetian berbalas penghianatan, dibela-belain merantau demi mencari rezeki yang lebih buat keluarga, ternyata di tinggal selingkuh ujungnya. Begitulah nasib yang memang tak bisa dihindari.
Setelah cerai setahun baru kali ini ia mengurus surat perceraian, jalur rekonsiliasi sudah tak bisa mengatasi, hanya bisa pasrah pada sang ilahi. Hampir setahun ia prustasi, bahkan terbesit ingin bunuh diri, tapi selalu gagal karena ia sangat takut dengan azab ilahi.
Pada kontek ini aku sepakat dengan Umar, bahwa perempuan adalah pangkal dari penyebab kehancuran, masih ingatkah kau dengan Helena, permpuan pemicu perang Troya, atau juliet yang membuat cinta Romeo berujung kematian, atau Diah Pitaloka penyebab perang bubat. Atau tauran pelajar gara-gara rebutan pacar.
Begitu banyak kisah memberikan cermin kepada kita, dan banyak contoh kisah peperangan dan kematian hanya gara-gara wanita.
Aku memulai percakapan" turun mana pak?" Ia agak terkejut karena tiba-tiba aku membangunkan lamunannya. "Turun Rembang dek", owalah berarti kita sama, pikirku, belum sempat kata-kata itu terkatan lewat bibirku karena terkadang sulit organ tubuh menuruti kemauan otak. Ia langsung menyambungya, "terus ambil jurusan Blora". Panaroma pantai utara berderet prahu nelayan bergoyang digoncang ombak, sekilas aku mengalihkan pandanganku melihat indahnya senja bersimpuh di pantai. Sebentar lagi aku akan sampai di tempat gadis pantai dalam kisah Pram, impian seorang gadis yang direnggut oleh budaya kolot feodal.
Kemudian lelaki itu bertanya"kalau masnya turun dimana?" Dengan suara agak serak seperti habis menagis.
"Aku turun di Pandangan, pak" jawabku sopan. Ia ternyata juga tahu daerah pandangan. Katanya"Pandangan itu yang kalau sedekah laut pasti datengi group dangdut MONATA ya? "Ia, pak, kadang juga PALAPA, ko bapak tau".
"Saya sering beli kaset dangdut koplo, ada tulisannya "sedekah laut. Desa Pandangan, Kragan, Rembang."
Sontak aku tertawa, aku pikir dia pernah berlayar atau punya saudara di Pandangan, eh ternyata, gara-gara dangdut.
Bus melaju kencang memburu malam, pria separu baya itu crita banyak tentang dirinya yang baru di tinggalkan istrinya. Miris, kesetian berbalas penghianatan, dibela-belain merantau demi mencari rezeki yang lebih buat keluarga, ternyata di tinggal selingkuh ujungnya. Begitulah nasib yang memang tak bisa dihindari.
Setelah cerai setahun baru kali ini ia mengurus surat perceraian, jalur rekonsiliasi sudah tak bisa mengatasi, hanya bisa pasrah pada sang ilahi. Hampir setahun ia prustasi, bahkan terbesit ingin bunuh diri, tapi selalu gagal karena ia sangat takut dengan azab ilahi.
Pada kontek ini aku sepakat dengan Umar, bahwa perempuan adalah pangkal dari penyebab kehancuran, masih ingatkah kau dengan Helena, permpuan pemicu perang Troya, atau juliet yang membuat cinta Romeo berujung kematian, atau Diah Pitaloka penyebab perang bubat. Atau tauran pelajar gara-gara rebutan pacar.
Begitu banyak kisah memberikan cermin kepada kita, dan banyak contoh kisah peperangan dan kematian hanya gara-gara wanita.
Komentar
Posting Komentar