Luthfi ‘Afif *)
Dalam berita baru-baru ini sering muncul
kejadian pararel, seperti pemboman di paris, isu pemboman pada acara tahun baru,
sampai pemboman di jakarta. Kejadian itu seolah-olah sudah menjadi agenda yang
terkonsepkan dengan rapi, di payungi dalam agenda teror yang katanya si
pengamat di lakukan oeleh ISIS. Sebelumnya ada juga berita yang termasuk dalam
rangkaian paralel dalam kejadian yang membahayakan ketika selfi, dari mulai
selpi di bibir kawah merapi, ditebing yang curam, sampai di kebun bunga yang berakibat
kerusakan. Bentuk rentetan ini walaupun tidak saling terkoordinasikan antara
satu dengan yang lain, akan tetapi peristiwa ini tersatukan oleh platfrom yaitu
narsisme.
Kedua berita tersebut mempunyai kesamaan
yaitu; sama-sama caper (pengen exis), sama-sama kurang kerjaan, sama-sama
mulgoh (pekerjaan yang sia-sia), dan sama-sama merugikan orang lain.
![]() |
Coba mari sama-sama kita analisa dengan
kacamata plus, pertama kesamaan tentang caper atau exis, dalam KBBI, maap KBBI
saya hilang- dalam angan-angan saya caper adalah suatu kondisi internal dari
individu ataupun kelompok yang lagi “mengalami fase kekosongan di mana butuh
ada yang ngisi”untuk semantara inilah difinisi dari keterbatasan angan-anganku.
Untuk peristiwa ISIS kenapa aku sebut caper, karena dalam situasi internasional
saat ini negara-ngara lagi mengkonsolidasikan kekuatan untuk menumpas ISIS.
yang terlihat sok gagah adalah Rukia dan Amerina Sekirat. ISIS mengalami
situasi terpojokkan. Untuk mengatasi situasi tersebut ISIS menggunakan strategi
caper, agar di mata internasional dia tetap dianggap.
Sama halnya motif caper yang dilakukan oleh
penggila selpi yang telah terdidik, kenapa terdidik karena mereka kebanyakan
para pelajar, tepatntnya pelajaran caper atau dalam pembahasan filsafatnya
adalah existensialisme, salah satu penyebab existensialisme adalah tidak mau
jujur dengan kenyataan, dalam kenyatan untuk mengedit muka di butuhkan biaya
ber milyar-milyar, jadi selpi menjadi alternatif. Namun dalam selpi juga
membutuhkan bagroun baru agar terlihat tidak monoton, jadi para penggila selpi
yang sudah akut akan mengalami fase ketidak pedulian (apatisme) terhadap
keselamatan dirinya maupun lingkungan sekitar.
Ke dua, sama-sama kurang kerjaan, dalam kasus
pemboman kebanyakan pelaku adalah orang-orang yang tidak kaya raya, tidak
terkenal, tidak bos, tidak eksekutif muda, tidak pula artis. Begitu juga orang
selfi, merka kebanyakan pelajar atau dalam bahasa lain penganguran terselubung,
lebih tepatnya parasit yang hidupnya lebih bergantung pada orang tua walaupun
gak semuanya.
Ketiga adalah Mulgoh dalam bahasa bebasnya
adalah pekerjaan sia-sia, pada dasarnya kerja adalah suatu aktifitas yang dapat
menghasilkan sesuatu, baik itu berguna bagi nusa dan bangsa ataupun tidak. Dan
pada dua kasusus diatas termasuk katagori pekerjaan yang tidak berguna karena
tidak bisa menghantarkan pada suatu kemaslahatan bahkan dapat menyebabkan
kemodloratan.
Keempat sama-sama merugikan orang lain,
peristiwa pemboman kalo ditaksir merugikan saya pikir gak perlu di jelaskan,
karena hal itu sudah jelas merugikan. Kalau dalam peristiwa selpikerugian ini
lebih kepada internal, karena dalam analisis yang ketiga itu termasuk pekerjaan
yang sia-sia, walaupun toh terkadang pekerjaan selpi dapat menyababkan kerugian
di tingkat external, seperti merusak lingkungan(taman, kebun bunga), selain itu
juga dapat merepotkan tim sar yang harus mencari korban yang terjatuh di bibir
gunung merapi gara-gara keasikan selpi.
Demikian sekilas tentang peristiwa berantai
yang selalu mnjadi trending topik di ahir dan penghujung tahun ini. Dalam
kacamata pesikologi peristiwa tersebut dilatar belakangi oleh narsisme dimana
kondisi pengalaman seseorang yang dia rasakan sebagai sesuatu yang benar-benar
nyata hanyalah tubuhnya, kebutuhannya, perasaannya, pikirannya, serta benda
atau orang-orang yang masih ada hubungan dengannya. Sebaliknya, orang atau
kelompok lain yang tidak menjadi bagiannya senatiasa dianggap tidak nyata,
inferior, tidak memiliki arti, dan karenanya tidak perlu dihiraukan. Bahkan,
ketika yang lain itu dianggap sebagai ancaman, apa pun bisa dilakukan, melalui
agresi sekalipun. Dalam dua peristiwa tersebut yang dianggap menjadi ancaman
bernegara dan berbangsa adalah aksi terorisme, sampai pemerintah melakukan
perevisian UU anti terorisme,tidak ada respon dari pemerintah terhadap generasi
yang suka selfi, padahal ketika selfi yang akut dapat menciptakan manusia
menjadi apatis maka itu sebenarnya juga menjadi ancaman bangsa.

Komentar
Posting Komentar