Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

generasi

Jika periodesasi "digital native" dimulai tahun 1994 maka saya tidak termasuk generasi jari-jemari. Sebab saya dilahirkan saat unisovyet telah runtuh. Genarasi angkatan 94 ini di juluki "digital native" karena mereka telah melek gadged. Mereka lincah dengan memainkannya dan membentuk ikatan komunal lintas dunia maya. Ada yang dengan nada nynyir menyebutnya generasi ini dengan generasi menunduk, karena tiap saat ia selalu "mentelengi" gadgednya. Digital native diambil dari bahasa Yunani yang bebararti jari-jemari yang asli. Karena aktivitas generasi ini di habiskan dengan senam jari maka sah sudah pengistilahan ini. Berbeda dengan angkatan pra94 yang mana mereka lebih suka menggunakan jarinya untuk mencari "upil, petan sembari rasan-rasan". Generasi pra 94 masih kaku menghadapi percepatan teknologi. Ada yang menganggap ini ulah si "wahyudi" yang selalu menjadi akar masalah dari ketidak mampuan berfikir. Setiap zaman mempunyai a...

penyakit lama

Semua akan busuk pada waktunya Tak perlu menunggu ajal menjemputnya Kapankah waktu itu tiba Disaat manusia diperbudak oleh harta Disaat manusia di digenggaman wanita Disaat manusia di kuasai oleh tahta Sesama menjadi korban persembahan Pada altar angkara murka Hati nurani, akal dan kewarasan tak berfungsi Ngeri, penyakit purba yang selalu diwariskan oleh sejarah.

mengejek

"Ojo seneng ngenyean", mengko yen balik neng awakmu dewe". Jangan suka menghina, nanti kembali padamu. Begitu wejangan yang aku dapat dari ibuku. Sepele memang tapi sulit sekali untuk menahan tidak mengejek, karena pada dasarnya kita sebagai manusia butuh bahan olokan untuk menunjukkan diri kita yang lebih dari orang yang kita olok. Apa lagi yang tak ada prestasi melihat dirinya gagah dibanding yang lain tak gagah tapi mampu berprestasi pasti rasanya sengit banget. Walhasil makian fisiklah yang menjadi peluru untuk menyasar lawannya, akibat ketakmampuan menyamai. Memang ini termasuk gejala psikologis disamping politis. Padahal dalam ajaran agama di katakan manusia diciptakan dengan sebagus-bagusnya bentuk, tak ada mahluk lain yang mengunggulinya ini nas. Itu menunjukkan bahwasanya menfkritik secara fisik itu tidak boleh karena itu subjektif sekali. Bukankah kita wajib menghargai sesama karena kita manusia adalah sama-sama diciptakan oleh yang kuasa. Lantas masih ...

anak zaman

Ada hal yang tidak mungkin dilakukan didunia ini, yaitu berdamai dengan waktu. Mengapa demikian, karena ruang dan waktu keduanya menjadi selimut tebal yang membalut jiwa kehidupan. Pepatah mengatakan "alon-alon asal kelaakon" pada saat yang tepat, pepatah itu sangat bijak, namun jika zaman menuntut semua serba cepat akan melibas semua yang lelet. Jawabannya harus tanggap situasi, peka terhadap keluh kesah zaman jika ingin tidak terseret. Disaat desa tidak bisa berbuat banyak, disaat generasi enggan mewarisi pola kehidupan pendahulu akan terjadi mutasi kebudayaan. Semua akan di cacah-cacah oleh kemajuan. Mengandalkan adaptasi. Bukankah itu pertahanan yang paling rapuh. Karena hidup bukan hanya mengikuti tanpa eksistensi produksi. Kreatif inovatif menjadi permintaan terbesar dari peradaban sekarang. Walaupun alam produktik akan tetapi tak ada skil pada penghuni yang tak menggunakan akal maka akan terlindas juga oleh kecepatan ide besar yang mampu merangkum sekaligus m...

ego

Hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak memang sayangat pelik dan memicu perdebatan. Ini karena tak ada satu hal pun yang bebas nilai kecuali mimpi. Untuk mencapai kesepakatan memang dibutuhkan dasar hukum yang jelas tentunya harus menimbang manfaat dan efek negatifnya. Kali ini tentang fulday scol yang dinilai tidak memihak kepada sekolah sore yang berbasis agama. Perbincangan ini sangat ramai di sosmed, di group WA, bahkan ada statemen "ini pertarungan antar dua ormas". Masih sulit di tebak motif politiknya. Dan untuk sementara isu ini masih menjadi bola liar, semoga tidak blunder. Tapi yang jelas akar per masalahan kalau kita mau jujur melihat pendidikan kita saat ini persoalannya bukan pada waktu dan bukan harus ditangani oleh siapa. Pada hakikatnya pendidikan untuk mencerdaskan bangsa, mengentas dari kegelapan ke arah yang terang, seperti cahaya itulah ilmu, yang tentunya harus mempunyai watak lokal bervisi nasional dan siap bersaing di kancah internasiona...

maaf atas nama pengalaman

Re post Jakarta, November 1991 Sejak 17 Agustus 1945 aku menjadi warganegara Indonesia, sebagaimana halnya dengan puluhan juta orang penduduk Indonesia waktu itu. Waktu itu umurku 20. Tetapi aku sendiri berasal dari etnik Jawa, dan begitu dilahirkan dididik untuk menjadi orang Jawa, dibimbing oleh mekanisme sosial etnik ke arah ideal-ideal Jawa, budaya dan peradaban Jawa. Kekuatan pendidikan yang dominan dan massal adalah melalui sastra, lisan dan tulisan, panggung, musik dan nyayian, yang membawakan cuplikan-cuplikan dari Mahabharata: sebuah bangunan raksasa yang terdiri dari cerita falsafi dan tatasusila, acuan-acuan religi, dan dengan sendirinya resep-resep sosial dan politik. Enerzi, dayacipta, pergulatan, telah dikerahkan berabad, melahirkan candi-candi dan mythos tentang para raja yang sukses, dan mendesak dewa-dewa setempat menjadi dewa-dewa kampung. Untuk itu “jutaan” manusia sepanjang sejarah etnikku terbantai. Tentu saja tidak angka resmi bisa ditampilkan. Yang jelas...

diktator

Agak kaget juga ketika mendengar kalau dia dikatakan diktator, biasanya dari segi fisik dan gaya tubuh maupun gaya bicara diktator itu sudah meyakinkan, penuh simbul, berapi-api, propagandis, agitatif. Lah ini "wonge aja guya-guyu, klemar-klemer" seperti wong utun pada umumnya, mungkin diapun tak tega membunuh nyamuk yang menggigitnya. Mungkin kalau orangnya gagah, kalau berbicara berkobar-kobar, cetar membahana, cocok. Contoh yang paling terkenal, Hitler dan Musolini. Itu ciri-ciri dari segi fisik, diluar fisik biasanya diktaor itu banyak melanggar HAM, melarang berkumpul, berpendapat, dan menyensor media yang tidak pro. Nah sekarang orang ngomong ngalor ngidul sak karepe udele dewe aja di jarke, asal tidak sampai menghina dan mengganti simbol maupun ideologi negara. Sekarang banyak yang mengatakan bahwa pemimpin tidak pro rakyat setiap kebijakanya membuat rakyat sengsara-rakyat yang mana dan kelas berapa?- selain itu juga membubarkan ormas. Itu semua isue yang mengada. ...

jujur

Kita di suguhi dengan berita yang berwarna tentunya dengan beragam argumen dan contoh kasus sebagai pembenaran argumen tersebut. Yang paling hangat -ta*i ayam- adalah tentang daya beli masyarakat yang menurun. Tentunya dengan rumusnya masing-masing dan segudang alasan. Apapun itu yang terjadi dimasyarakat memang tidak pernah bebas dari nilai-karena manusia selain "zon politikon, dia juga zon komentator"- sekecil apapun itu pasti memancing lambe gambleh. Terkait tingkat daya beli turun ada yang berpendapat tidak turun, akan tetapi mengalami shifting/ bergeser, yang didikung oleh kemajuan teknologi. Pergeseran ini sudah menjadi kodrat semesta karena yang tidak bergeser adalah pergeseran itu sendiri. Ada pula yang memangatakan memang daya beli lagi turun, karena pasar mengalami lesu, dan tingkat produktifitas menurun,-walaupun gaya produksi perpacu dengan gaya baru dan daya beli yang diambil alih oleh transiksi maya tanpa luna- namun nyatanya demikian yang dirasakan seba...

perpeloncoan

Re post Oleh: Klisab Sentosa* Pengumuman ujian sudah selesai, kami dari SMA lulus 100%, karena pihak sekolah membocorkan kunci jawaban ujian. Kami para murid diminta iuran 150.000 supaya lancar lulus semulus tubuh Tamara ketika dia menjadi iklan sabun. Namaku Nisa, ikut ujian seleksi perguruan tinggi lewat jalur SNMPTN, dua pilihan yang aku ambil, psikologi di kampus paling mentereng di kota pelajar dan Sejarah di kampus yang paling populer dengan aksi demonstrasi. Dan aku diterima di jurusan sejarah. Masa perpeloncoan dari tanggal 27—1, ketika hari pertama dipelonco, aku dan kawan-kawan maba dibentak-bentak, ditendang-tendang tas kami, dan dimaki-maki. Dan hari ini hari terakhir perpeloncoan. Hari-hari ketika dendam mulai membatu, sengaja aku mengikuti OSPEK di hari terakhir tidak memakai seragam. “Memangnya kenapa kalau aku tidak mau memakai seragam yang telah ditentukan!?” tanyaku. “Kamu mau melawan!!!” bentak panitia bermuka  lusuh rambut gondrong, celana sobek deng...

matinya seorang demonstran

Re post Oleh Agus Noor PAHLAWAN hanyalah pecundang yang beruntung. Ratih selalu tak bisa melupakan kata-kata itu setiap kali melewati jalan ini. Telah banyak yang berubah. Tak ada lagi deretan kios koran, warung gado-gado, dan penjual bensin eceran di pojokan. Bangunan kuno asrama mahasiswa yang dulu berada di sisi kanan telah menjadi ruko bergaya modern. Waktu mengubah gedung-gedung, tapi tidak mampu mengubah kenangannya. Ratih tersenyum membaca nama jalan itu. Teringat apa yang dikatakan Eka. ”Banyak orang ingin jadi pahlawan, agar namanya dijadikan nama jalan. Mungkin, itulah satu-satunya keberuntungan menjadi pahlawan di negara ini.” Ada sinisme dalam kata-katanya. Tapi itulah, yang ketika pertama kali bertemu dalam satu diskusi, membuatnya suka pada Eka. Dia selalu menarik perhatian dengan pernyataan-pernyataan yang disertai kelakar. ”Militerisme pasti mati di Republik ini. Dan aku adalah orang sipil pertama yang akan menjadi Panglima ABRI. Tak hanya dapat Bintang Lima. ...

perempuan

Tangismu adalah pembelaan Kebaikanmu sebagai topeng untuk mencuri Itu pepatah lama Yang sengaja Dibuat untuk membuatmu Tampak kerdil tampak kecil Kau manusia Bukan hanya sebatas seperti Langkahkan kakimu Sejauh harapan Kau manusia bukan hanya sebatas seperti Gantungkan cita-citamu setinggi nirwana Jika kamu dianggap bunga Dan laki-laki dianggap kumbang yang mengambil sari putikmu Itu pepatah lama.

kemarinya

Kemarin tanggal 4 agustus 2017, Jam : 17.00, Tempat RODE 610. Diskusi bersama Soewarsono (peneliti senior P2KK LIPI) dengan tema : Gerakan mahasiswa dulu dan sekarang. Diskusi dihadiri beberapa studi club dari berbagai kampus antara lain UIN, UII, dan UAD. Selain itu juga dihadiri oleh Yuni Setya Rahayu (Mantan Wabub Sleman dan Sekjend PDIP D.I.Y) dan Fahim Fahmi (Advokad senior yogyakarta). Pembahasan tentang gerakan mahasiswa dimulai dari Zaman kekuasaan Gereja pada abad pertengahan hingga sekarang (Feodalisme sampai Kapitalisme). Dari situ dapat ditarik model gerakan. Yakni Gerakan yang berbasis Religion-Saint-Student Movement. Dari pemateri diskusi menekankan bagi gerakan mahasiswa untuk mengusai saint dan teknologi. Agama dan saint tidak pernah bertentangan. Keduanya berjalan berbarengan dengan ruang yang berbeda. Mengenai agama mas sono sepakat dengan Lenin yang meletakan agama diruang privat. sedangkan saint berada diruang publik. Hal tersebut senada dengan yang dikatakan ole...

kemarin

Kemarin di sela-sela kerja bakti di bukit bersama masyarakat yang gigih berjuang mempertahankan hidup dari tingginya pohon kelapa dan serangan penggusuran dari manusia rakus yang siap melahap lahan-lahan produktif tumpuan para petani, apa mau dikata"wis wola-waline zaman" kata si mbah yang berumur 78 tahun, dan beliau yang berani bersuara terhadap sombongnya raung buldoser, walaupun sudah ompong namun tetap bersuara, "demi masa depan anak cucu" tandasnya dengan mata yang layu menerawang. Si mbah tak perlu teori kritis untuk menentang kebebalan dan kecongkakan manusia, yang dia punya hanya rasa cinta kepada alam yang telah memberikan penghidupan dan rasa cinta kepada anak cucu yang menjadi penurus generasi. "Tidak baik, masak anak cucu kita hanya mendapat ampas". Sakit. Sementara tuan berseragam asik mengoreksi hal-hal yang melangit, menghutbahkan kebencian dengan tameng tuhan, untungnya banyak yang cuek. Memang orang semacam itu harusnya di "rukiy...

siang

Pada siang yang berselimut mendung Ada hujan rindu yang tak terbendung Jarak ditelan pergantian matahari dan bulan Sampai pada saatnya kesempatan bintang menamani rembulan Aku tidur di peluk dingin Aku terjaga di temani rindu Pikiran lelah fisik lemah Kusandarkan punggung pada kursi rotan Menikmati berisik angin menerpa dedaunan Sembari menanti tumpuan harapan Saat asap tak lagi memikat Aroma tubuhmu yang lebih pekat Dari sederet sigaret Lagi-lagi aku merindumu Ku ceritakan ini pada bunga yang layu dan meja yang kaku juga manusia yang semakin membeku, bisu. Pada siang yang berselimut mendung Ingin kuluapkan segala apa yang ku inginkan dalam dadamu semakin hari tak mampu aku menjamahmu dan juga bayanganmu yang semakim kabur tertumpuk sederet kegiatan yang membentur. Jarak bukan ukuran bagi yang diperbudak oleh kasmaran Kita yang memang bersepakat, untuk seperti janji matahari pada rembulan Selalu silang seberang pada rotasi yang berbeda, Namun keseimbangan tercipta....