Kita di suguhi dengan berita yang berwarna tentunya dengan beragam argumen dan contoh kasus sebagai pembenaran argumen tersebut.
Yang paling hangat -ta*i ayam- adalah tentang daya beli masyarakat yang menurun. Tentunya dengan rumusnya masing-masing dan segudang alasan.
Apapun itu yang terjadi dimasyarakat memang tidak pernah bebas dari nilai-karena manusia selain "zon politikon, dia juga zon komentator"- sekecil apapun itu pasti memancing lambe gambleh.
Terkait tingkat daya beli turun ada yang berpendapat tidak turun, akan tetapi mengalami shifting/ bergeser, yang didikung oleh kemajuan teknologi. Pergeseran ini sudah menjadi kodrat semesta karena yang tidak bergeser adalah pergeseran itu sendiri.
Ada pula yang memangatakan memang daya beli lagi turun, karena pasar mengalami lesu, dan tingkat produktifitas menurun,-walaupun gaya produksi perpacu dengan gaya baru dan daya beli yang diambil alih oleh transiksi maya tanpa luna- namun nyatanya demikian yang dirasakan sebagian orang.
Dan pada hakikatnya manusia adalah zon komentator saya jadi tertarik untuk ikut komentar, tentunya dengan kapasitas saya sebagai "aku cah angon" yang masih muda dan cemerlang menjadi parasit dirumah orang tua.
Memang dalam ahir-ahir ini dari pihak bapak yang sering memfatwakan harus puasa rajin puasa senin kamis, bahkan kalau bisa puasa "ndalail", dan setiap aku berangkat " pasti diwejangi, "nak, kalau pulang dari "angon", jangan lupa bawa oleh-oleh kangkung buat buka puasa, dan minta sama cabe diladangnya pak jrangkung. Aku curiga ko tiba-tiba bapakku mendadak syar'i. Dan dari pihak ibu menu dimeja makan semkain dan terutama sambel pedas, manis, asam, asin yang ramai rasanya sekarang terasa hambir, aku curiga ini pasti ada pengurangan kuantitas yang mempengarui kualitas sambal ibu. Dan keluahan adikku (sekolah di paut-untungnya tidak kena fulday schol) yang di potong uangsakunya, yang semula bisa janjan sosisi plus susu bantal sekarang cuma bisa jajan sosis dan air putih bawa dari rumah.
Usut punya usut semua itu karena alasan ekonomis, yang memaksa irit tapi harus tetap gesit agar kita tetap bisa kerja bersama dan dapur tetap ngebul. Mengingat pengalihan subsidi ke hal produktif membuat kita sekeluarga beradaptasi dengan situasi ini.
Dari sini aku bisa ambil kesimpulan bahwa keluargaku tidak konsumtif sehingga jarang kepasar.
Fenomena menurunnya daya beli ini memang ada karena ini bagian dari dinamika pasar yang sering mengalami fluktuasi karena berbagai macam sebab.
Apapun itu yang penting transparan terhadap kebijakan dan kenyataan (daripada narasi tunggal), bukan kah kita dihimbau untuk sampaikanlah °pembenaran° kebenaran, walaupun itu pahit, karena yang manus bikin diabetes.
Yang paling hangat -ta*i ayam- adalah tentang daya beli masyarakat yang menurun. Tentunya dengan rumusnya masing-masing dan segudang alasan.
Apapun itu yang terjadi dimasyarakat memang tidak pernah bebas dari nilai-karena manusia selain "zon politikon, dia juga zon komentator"- sekecil apapun itu pasti memancing lambe gambleh.
Terkait tingkat daya beli turun ada yang berpendapat tidak turun, akan tetapi mengalami shifting/ bergeser, yang didikung oleh kemajuan teknologi. Pergeseran ini sudah menjadi kodrat semesta karena yang tidak bergeser adalah pergeseran itu sendiri.
Ada pula yang memangatakan memang daya beli lagi turun, karena pasar mengalami lesu, dan tingkat produktifitas menurun,-walaupun gaya produksi perpacu dengan gaya baru dan daya beli yang diambil alih oleh transiksi maya tanpa luna- namun nyatanya demikian yang dirasakan sebagian orang.
Dan pada hakikatnya manusia adalah zon komentator saya jadi tertarik untuk ikut komentar, tentunya dengan kapasitas saya sebagai "aku cah angon" yang masih muda dan cemerlang menjadi parasit dirumah orang tua.
Memang dalam ahir-ahir ini dari pihak bapak yang sering memfatwakan harus puasa rajin puasa senin kamis, bahkan kalau bisa puasa "ndalail", dan setiap aku berangkat " pasti diwejangi, "nak, kalau pulang dari "angon", jangan lupa bawa oleh-oleh kangkung buat buka puasa, dan minta sama cabe diladangnya pak jrangkung. Aku curiga ko tiba-tiba bapakku mendadak syar'i. Dan dari pihak ibu menu dimeja makan semkain dan terutama sambel pedas, manis, asam, asin yang ramai rasanya sekarang terasa hambir, aku curiga ini pasti ada pengurangan kuantitas yang mempengarui kualitas sambal ibu. Dan keluahan adikku (sekolah di paut-untungnya tidak kena fulday schol) yang di potong uangsakunya, yang semula bisa janjan sosisi plus susu bantal sekarang cuma bisa jajan sosis dan air putih bawa dari rumah.
Usut punya usut semua itu karena alasan ekonomis, yang memaksa irit tapi harus tetap gesit agar kita tetap bisa kerja bersama dan dapur tetap ngebul. Mengingat pengalihan subsidi ke hal produktif membuat kita sekeluarga beradaptasi dengan situasi ini.
Dari sini aku bisa ambil kesimpulan bahwa keluargaku tidak konsumtif sehingga jarang kepasar.
Fenomena menurunnya daya beli ini memang ada karena ini bagian dari dinamika pasar yang sering mengalami fluktuasi karena berbagai macam sebab.
Apapun itu yang penting transparan terhadap kebijakan dan kenyataan (daripada narasi tunggal), bukan kah kita dihimbau untuk sampaikanlah °pembenaran° kebenaran, walaupun itu pahit, karena yang manus bikin diabetes.
Cukup menarik
BalasHapuslucu
BalasHapus