Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

teroris

Teror lagi, teror lagi. Kali ini setting panggungnya tempat ibadah yang sakral dan suci, barang siapa yang njagong sambil ngudud didalam tempat ibadah maka tidak diperbolehkan, karena berpotensi mengotori dengan abu rokok--apa lagi melakukan teror dengan menusuk dan mengeluarkan darah anak adam yang tak berdosa, sungguh laknat bagimu wahai tukang teror. Mungkin disana tidak ada tulisan dilarang menusuk. Bagi orang yang masih waras mungkin melihat fenomena teror dimana-mana adalah suatu kegilaan yang tak terperikan, tak punya welas asih apa lagi rasa humur, karena teroris tidak bisa tertawa, hanya cemberut yang menghiasi wajahnya. Teroris merupakan hasil dari pra kondisi radikalisasi yang menggunakan nilai moral agama dan nilai perjuangan. Nilai normatif yang ada dalam agama dikonteskan dengan yang individu hadapi ataupun nilai yang ada di masyarakat. Nilai yang berseberangan atau yg tidak sesuai itu lah yang di jadikan refrensi untuk menginternalisasikan nilai agama. Saat nilai sud...

golokar

Bagi golokar (golongan kasep rabi) momen lebaran menjadi sangat menakutkan, karena ada pertanyaan yang sulit dijawab. Pertanyaan ini lebih sulit dari UN, soalnya tidak ada pilihan ganda. Jawabannya harus naratif, logis, dan meyakinkan. Pertanyaan itu ialah "kapan nikah?". Sangat simpel, tapi jawabanya bikin belibet. Terkadang lebih baik mengurung diri atau dalam bahasa kekinian "mlipir" demi menghindari pertanyaan tersebut. Sangat delematis, ngurung diri tidak etis, macam tahanan politik, mau kabur kayak si habib atau bang toyib sungguh sangat mahal ongkosnya. Mencoba menghadapi dengan jantan tapi kurang mempersiapkan jawaban membuat suasana lebaran yang penuh maaf-maafan menjadi "pekiwuh", rikuh. Ada teman yang cerdik, ia lebaran berkunjung ke rumah sanak-saudara dengan cara maraton, yang penting maksut dan tujuannya tercapai (sungkem). Ada pula yang berlindung di balik alasan yang penuh retorika, dengan prinsip logika aristoteles yang hanya berbeka...

mahar

Barangkali tuntunan untuk tidak bermewah-mewahan memberikan mahar dalam suatu pernikahan untuk membuktikan betapa luhurnya cinta dan tali kasih yang diikat erar dalam sebuah ikrar kesetian. Karena sejatinya cinta tiadanya kesepakatan duniawi. Sederhananya mahar bukan bukan upaya merendahkan nilai seorang perempuan yang sejatinya bukan komoditas--beli barang rusak bisa dikembalikan-- perempuan itu manusia yang tak bisa dinilaikan, ia bukan hanya sebatas seperti manusia yang melengkapi dan melayani kebutuhan kaum lelaki.

musik

Beberapa waktu kutinggalkan blog ini untuk belajar membuat lagu, mencoba mengkolaborasikan kata yang terasa tak bermakna dengan kejujuran musik. Ternyata seru karana dari tiap kata menjadi lebih terasa jika musik mengimbangi, bukan hanya mengimbangi juga mengklarifikasi, memverivikasi, menginternalisasi. Bahkan lebih karena kekuatan musik dapat mengorek kedalaman empirikal dan ketidak setujuan batin yang tak disadari.