Teror lagi, teror lagi. Kali ini setting panggungnya tempat ibadah yang sakral dan suci, barang siapa yang njagong sambil ngudud didalam tempat ibadah maka tidak diperbolehkan, karena berpotensi mengotori dengan abu rokok--apa lagi melakukan teror dengan menusuk dan mengeluarkan darah anak adam yang tak berdosa, sungguh laknat bagimu wahai tukang teror. Mungkin disana tidak ada tulisan dilarang menusuk. Bagi orang yang masih waras mungkin melihat fenomena teror dimana-mana adalah suatu kegilaan yang tak terperikan, tak punya welas asih apa lagi rasa humur, karena teroris tidak bisa tertawa, hanya cemberut yang menghiasi wajahnya. Teroris merupakan hasil dari pra kondisi radikalisasi yang menggunakan nilai moral agama dan nilai perjuangan. Nilai normatif yang ada dalam agama dikonteskan dengan yang individu hadapi ataupun nilai yang ada di masyarakat. Nilai yang berseberangan atau yg tidak sesuai itu lah yang di jadikan refrensi untuk menginternalisasikan nilai agama. Saat nilai sud...