Bagi golokar (golongan kasep rabi) momen lebaran menjadi sangat menakutkan, karena ada pertanyaan yang sulit dijawab. Pertanyaan ini lebih sulit dari UN, soalnya tidak ada pilihan ganda. Jawabannya harus naratif, logis, dan meyakinkan.
Pertanyaan itu ialah "kapan nikah?". Sangat simpel, tapi jawabanya bikin belibet. Terkadang lebih baik mengurung diri atau dalam bahasa kekinian "mlipir" demi menghindari pertanyaan tersebut.
Sangat delematis, ngurung diri tidak etis, macam tahanan politik, mau kabur kayak si habib atau bang toyib sungguh sangat mahal ongkosnya. Mencoba menghadapi dengan jantan tapi kurang mempersiapkan jawaban membuat suasana lebaran yang penuh maaf-maafan menjadi "pekiwuh", rikuh.
Ada teman yang cerdik, ia lebaran berkunjung ke rumah sanak-saudara dengan cara maraton, yang penting maksut dan tujuannya tercapai (sungkem). Ada pula yang berlindung di balik alasan yang penuh retorika, dengan prinsip logika aristoteles yang hanya berbekal kesamaan premis, walaupun jawabannya tak memuaskan. Paling tidak obrolannya cair dan penuh canda.
Yang terahir ni menggunakan cara modern, dengan kecepatan arus teknologi komunikasi berdampak positif bagi "golongan kasep rabi". Syukur harus di persembahkan kepada kecanggihan zaman modern. Lebaran tak perlu tatap muka cukup lewat WA dan sosmed lainnya, sehingga acara maaf-maafan tak perlu berkunjung dan bertatap muka.
Pertanyaan itu ialah "kapan nikah?". Sangat simpel, tapi jawabanya bikin belibet. Terkadang lebih baik mengurung diri atau dalam bahasa kekinian "mlipir" demi menghindari pertanyaan tersebut.
Sangat delematis, ngurung diri tidak etis, macam tahanan politik, mau kabur kayak si habib atau bang toyib sungguh sangat mahal ongkosnya. Mencoba menghadapi dengan jantan tapi kurang mempersiapkan jawaban membuat suasana lebaran yang penuh maaf-maafan menjadi "pekiwuh", rikuh.
Ada teman yang cerdik, ia lebaran berkunjung ke rumah sanak-saudara dengan cara maraton, yang penting maksut dan tujuannya tercapai (sungkem). Ada pula yang berlindung di balik alasan yang penuh retorika, dengan prinsip logika aristoteles yang hanya berbekal kesamaan premis, walaupun jawabannya tak memuaskan. Paling tidak obrolannya cair dan penuh canda.
Yang terahir ni menggunakan cara modern, dengan kecepatan arus teknologi komunikasi berdampak positif bagi "golongan kasep rabi". Syukur harus di persembahkan kepada kecanggihan zaman modern. Lebaran tak perlu tatap muka cukup lewat WA dan sosmed lainnya, sehingga acara maaf-maafan tak perlu berkunjung dan bertatap muka.
Komentar
Posting Komentar