Kemarin di sela-sela kerja bakti di bukit bersama masyarakat yang gigih berjuang mempertahankan hidup dari tingginya pohon kelapa dan serangan penggusuran dari manusia rakus yang siap melahap lahan-lahan produktif tumpuan para petani, apa mau dikata"wis wola-waline zaman" kata si mbah yang berumur 78 tahun, dan beliau yang berani bersuara terhadap sombongnya raung buldoser, walaupun sudah ompong namun tetap bersuara, "demi masa depan anak cucu" tandasnya dengan mata yang layu menerawang.
Si mbah tak perlu teori kritis untuk menentang kebebalan dan kecongkakan manusia, yang dia punya hanya rasa cinta kepada alam yang telah memberikan penghidupan dan rasa cinta kepada anak cucu yang menjadi penurus generasi. "Tidak baik, masak anak cucu kita hanya mendapat ampas". Sakit.
Sementara tuan berseragam asik mengoreksi hal-hal yang melangit, menghutbahkan kebencian dengan tameng tuhan, untungnya banyak yang cuek. Memang orang semacam itu harusnya di "rukiyah" agar aura sara keluar dari jiwanya.
Si mbah tak perlu teori kritis untuk menentang kebebalan dan kecongkakan manusia, yang dia punya hanya rasa cinta kepada alam yang telah memberikan penghidupan dan rasa cinta kepada anak cucu yang menjadi penurus generasi. "Tidak baik, masak anak cucu kita hanya mendapat ampas". Sakit.
Sementara tuan berseragam asik mengoreksi hal-hal yang melangit, menghutbahkan kebencian dengan tameng tuhan, untungnya banyak yang cuek. Memang orang semacam itu harusnya di "rukiyah" agar aura sara keluar dari jiwanya.
Komentar
Posting Komentar