Ibu kota kemarin cerminan absennya kemanusiaan.
Piala kekuasaan menggiyurkan
Menerjang pekerti demi tercapainya kursi kekuasaan.
tuhan yang di seret kejalan kegilaan menjadi keharusan.
Mencaci, menghujat bahkan melaknat siapapun yang beeseberangan.
Polis menjadi figur keadaban di coreng dengan arang kenistaan.
Rombongan semut, kecoa, tikus dan sekawanan satu galak menuju satu titik penyingkiran.
Boikot sana-sini
Dan memberikan janji surgawi
Katanya,
Ada 72 bidadari yang menanti
Yang siap memuaskan birahi.
Kenapa rasa welas asih mereka hilang
Apa karena kekuasaan hingga semuanya hilang kesadaran.
Semoga, kelak tidak diulangi lagi
Mematikan lawan dengan menebar benci.
Pakailah nurani
Demi masa depan negri
Piala kekuasaan menggiyurkan
Menerjang pekerti demi tercapainya kursi kekuasaan.
tuhan yang di seret kejalan kegilaan menjadi keharusan.
Mencaci, menghujat bahkan melaknat siapapun yang beeseberangan.
Polis menjadi figur keadaban di coreng dengan arang kenistaan.
Rombongan semut, kecoa, tikus dan sekawanan satu galak menuju satu titik penyingkiran.
Boikot sana-sini
Dan memberikan janji surgawi
Katanya,
Ada 72 bidadari yang menanti
Yang siap memuaskan birahi.
Kenapa rasa welas asih mereka hilang
Apa karena kekuasaan hingga semuanya hilang kesadaran.
Semoga, kelak tidak diulangi lagi
Mematikan lawan dengan menebar benci.
Pakailah nurani
Demi masa depan negri
Komentar
Posting Komentar