Rasanya "karipan", mataku masih ngantuk teklak-tekluk, semalam begadang sampe pagi dengan keluarga rame-rame membuat ketupat dan lepet.
Hidangan tersebut paling nikmat kalau dimakan bersama-sama, ditempatku bisanya dimakan bersama tetangga sekitar di mushola, ada juga yang dibawa kepantai untuk disantap ramai-ramai. Seru kan, guyup rukun agawe sentosa.
Proses pembuatannya juga sangat seru, karena di buat bersama, bukankah kebersamaan adalah kebahagian yang tak ternilai yang sekarang sudah sepi karena di grogoti oleh ego pribadi.
Kami semua bisa membuat kedua makanan itu, dari kecil tradisi membuat kedua makanan tersebut sudah diwariskan. Awalnya aku males banget buat kayak gituan ribet sekali, harus manjat pohon kelapa untuk mengambil "janur" kemudian menganyam hingga berbentuk segi empat, dan lepet yang lonjong. Ribet kan, belum lagi masaknya berjam-jam. Ketupat paling uenak kalau pakai daun lontar, rasanya kayak ada manis-manisnya gitu, di tambah opor sama sayur tawon, di jamin laris, karena kalau pas kundangan hidangan itulah yang paling di buru. Dijamin empat sehat lima sempurna dan enam geratis.
Tapi keribetan itu tetap kami lakukan karena waktu kecil dapat cerita dari orang tua "kalau kalian tidak bisa membuat ketupat, maka nanti kalian akan di hukum untuk memikul "pelanangane" raksasa", serem kan, tak bisa membayangkan jikalau hal tersebut terjadi sungguhan.
Kalau di daerahku, tradisi ketupat di lakukan tujuh hari pasca lebaran ied, nah di hari ketujuh ada lebaran kecil lagi pasca satu sawal puasa sunnah.
Budaya Nusantara memang syarat akan simbol yang mempunyai makna mendalam terhadap nilai luhur suatu kehidupan. Kupat yang mempunyai makna "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan, sebagai bentuk nilai yang menegaskan manusia tempatnya kesalahan, dan kesalahan harus diakui agar manusia tidak terjebak dalam lembah keangkuhan eksistensialeme dan akuisme. Juga ada yang memaknainya dengan "laku papat" empat perilaku yakni, lebaran; sebagai tanda bahwa ramadan bulan yang penuh ampunan, penuh rahmat telah selesai, luberan; dimaksutkan sebagai bentuk bagi-bagi rezeki yang tidak hanya dinikmati sendiri tapi di luberkan ke sanak saudara ke tetangga, leburan; diartikan sebagai leburnya dosa-dosa dan kembali ke fitrah, labura; berarti putih agar manusia tetap menjaga kesuciannya, agar tidak terjatuh dalam lembah dosa.
Tradisi tersebut adalah hasil akulturasi dari tradisi pra-Islam yang sudah mapan, sunan Kali Jaga sebagai kreator peracik budaya, dia yang meminang budaya lama yang di beri nafas nilai Islam.
Islam nusantara sangat ramah lingkungan bukan, dia bukan menghancurkan yang lama, tapi tetap pada prinsip "mengambil tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik". Islam menjadi agama yang rahmah, ramah, penuh toleransi.
Nah, apakah hanya demi hasrat kekuasaan yang hanya kenikmatan fatamorgana kita akan merusak citra Islam yang ramah menjadi Islam yang garang, doyan perang. Mungkin mereka tidak bisa membuat ketupat dan tak pernah makan ketupat, karena bagi mereka ketupat adalah BIDngAh. TAKBIR...........!!!
Komentar
Posting Komentar