Angin siang ini ribut sekali hampir menerbangkan terpal hijau yang menjadi atap Angkringan di pinggir trotoar Tamsis, di tambah terik yang menyengat siapapun yang tak punya perlindungan. Asapa mengepul disudut meja angkringan, ya itu dari arang baunya terasa bersahabat seperti bau setrika tempo dulu. Sengatan semakin panas berbeda dengan tempat makan amereka yang berdiri gagah disamping belakang angkringan, didalamnya ber AC pembelinya pun pakai mobil.
"Mbak, tambah toyo petak malih, rasane ngorong tenan." Aku hanya mengamati gelagatnya mencoba menerka siapakah dia, sekilas mirip indro tapi berbeda nasib, ahh memang nasib susah ditebak seperti hari esok yang misteri, "niki, ditambah gulo mboten". "Sampun, toyo mawon, ngorong niki." Aku pikir tukang parkir, karena sesekali ia menikmati esteh yang sudah habis ditimpa dengan air putih sambil mengobrol tentang motornya dengan tukang ojek online, ada hasrat ingin pindah dari raut wajah. "Nanti anakku wae tak suruh daftar ojek, "sudah sebulan dia tak bekerja", timpal ibuk angkringan. Aku masih termenung sambil sesekali ikuti obrolan mereka. Aku lihat wajah yang melawan letih dan malu, terkadang dia hanya menunduk dan terkadang terlihat tegar.
Ada yang berangkat bekerja harus wangi, bersih rapi, dan ia kumal, degil, hanya pakai sendal mengais sisa-sisa. Barangkali karena penghasilan yang tak seberapa ia memulai sarapannya ketika siang datang dan hanya dengan sarimi. Aku berfikir tentang kesejahtraan sosial, tentang negara kesejahtraan, tentang sistem menetes kebawah, yaa, itu hanya tetesan sisa dari orang yang nyampah sembarangan.
Setelah ia selesai diseretnya alat produksinya (grobak) yang bertuliskan "bagi kalian sampah, bagi kami berkah", aku lihat terus sambil ku lepaskan senyuman perkenalan, ia belok ke tempat makan Amerika yang berlogokan caping, ia seret grobaknya dengan semangat mengahmpiri tempat sampah limbah produksi.
Tuhan menciptakan alam semesta agar manusia mampu memanfaatkan, akan tetapi jatah rezeki yang over, monopoli pribadi karena modalnya kuat hingga yang lain tersingkir dari arena, sementara ia hanya mengais sisa rezeki, aku pernah mendengar definisi rezeki, setiap apa-apa yang dimanfatkan oleh seseorang itulah rezeki, dan dia hanya mengais sisa pemanfaatan orang lain yang dianggap sudah tidak bermanfaat.
Saat bak sampah ia korek ada tikus lari terbirit-birit merasa tidur siangnya terusik oleh garu besi pengorek sampah, lepas itu ia berjalan lagi mencari sisa rezeki dari tempat sampah yang lain.
"Jalan terus pak, biarkan mereka menggerutu"
"Mbak, tambah toyo petak malih, rasane ngorong tenan." Aku hanya mengamati gelagatnya mencoba menerka siapakah dia, sekilas mirip indro tapi berbeda nasib, ahh memang nasib susah ditebak seperti hari esok yang misteri, "niki, ditambah gulo mboten". "Sampun, toyo mawon, ngorong niki." Aku pikir tukang parkir, karena sesekali ia menikmati esteh yang sudah habis ditimpa dengan air putih sambil mengobrol tentang motornya dengan tukang ojek online, ada hasrat ingin pindah dari raut wajah. "Nanti anakku wae tak suruh daftar ojek, "sudah sebulan dia tak bekerja", timpal ibuk angkringan. Aku masih termenung sambil sesekali ikuti obrolan mereka. Aku lihat wajah yang melawan letih dan malu, terkadang dia hanya menunduk dan terkadang terlihat tegar.
Ada yang berangkat bekerja harus wangi, bersih rapi, dan ia kumal, degil, hanya pakai sendal mengais sisa-sisa. Barangkali karena penghasilan yang tak seberapa ia memulai sarapannya ketika siang datang dan hanya dengan sarimi. Aku berfikir tentang kesejahtraan sosial, tentang negara kesejahtraan, tentang sistem menetes kebawah, yaa, itu hanya tetesan sisa dari orang yang nyampah sembarangan.
Setelah ia selesai diseretnya alat produksinya (grobak) yang bertuliskan "bagi kalian sampah, bagi kami berkah", aku lihat terus sambil ku lepaskan senyuman perkenalan, ia belok ke tempat makan Amerika yang berlogokan caping, ia seret grobaknya dengan semangat mengahmpiri tempat sampah limbah produksi.
Tuhan menciptakan alam semesta agar manusia mampu memanfaatkan, akan tetapi jatah rezeki yang over, monopoli pribadi karena modalnya kuat hingga yang lain tersingkir dari arena, sementara ia hanya mengais sisa rezeki, aku pernah mendengar definisi rezeki, setiap apa-apa yang dimanfatkan oleh seseorang itulah rezeki, dan dia hanya mengais sisa pemanfaatan orang lain yang dianggap sudah tidak bermanfaat.
Saat bak sampah ia korek ada tikus lari terbirit-birit merasa tidur siangnya terusik oleh garu besi pengorek sampah, lepas itu ia berjalan lagi mencari sisa rezeki dari tempat sampah yang lain.
"Jalan terus pak, biarkan mereka menggerutu"
Komentar
Posting Komentar