Kehidupan mengalir seperti air, tapi jangan sampai terbawa arus. Dan agar tidak terbawa arus harus mempunyai prinsip yang kuat. Badai kehidupan datang silih berganti yang akan menempa kita menjadi pribadi yang tangguh, tidak cengeng.
Hidup bagaikan mengarungi samudra, terkadang digoncang badai, kadang juga mengalir tenang tanpa goncangan, setiap orang pasti memilih yang kedua, namun tak ada pelayar yang tangguh tanpa menaklukkan amukan badai. Jadi tergantung, mau jadi pelayar yang tangguh mengarungi samudra kehidupan atau ingin menjadi pelayar biasa yang selalu menginginkan ketenangan dan takut pada ujian. Itu semua tergantung masing-masing dari kita, karena kita diberi kebebasan untuk memilih. Yang perlu di ingat pilihat yang baik itu didasari akal dan pertimbangan nurani, bukan salah satunya.
Zaman semakin maju, penghuni bumi makin padat, semuanya menjadi terasa sempit. Kemajuan dari setiap zaman menciptakan badainya sendiri-sendiri dan setiap zaman juga akan memunculkan pelayar yang tangguh yang mampu menaklukkan gelombang badai.
Itu hanya salah satu pandangan terkait memaknai kehidupan, boleh berbeda, seperti temanku, Hedon namanya, gadis periang dari keluarga kelas menengah yang tak pernah pusing memikirkan makna kehidupan. Sebelum ia lahir sudah kaya sebab waktu Hedon masih dalam kandungan ayahnya sudah membelikan ia lima unit pombensin, usaha tersebut berkembang beranak pinak sampai ia dewasa, dan sekarang entah berapa M pendapatan ia perhari. Dia tak pernah merasakan apa itu lapar, apa itu tidur tanpa alas adan hanya berbantal lengan, semua itu tak ada dalam bayangannya. Mulai dari ayahnya, sampai mbah-mbahnya tidak ada riwayat yang menderita penyakit miskin.
Semua orang pasti ingin dilahirkan seperti Hedon. Namun apa mau dikata manusia memiliki garis takdirnya masing-masing. Nasib baik memang tak bisa dipesan, akan tetapi bisa diusahakan selama itu maksimal dan didikung keberuntungan maka nasib baik akan segera menghampirimu.
Lalu dimana bukti makna hidup yang seperti mengarungi samudra, yang hanya akan melahirkan pelayar yang tangguh jika bertemu badai yang mengamuk bukan lautan yang teduh. Bukti makna hidup yang demikian bukan dari cerita si Hedon yang kaya sejak dalam kandungan, akan tetapi lihatlah tokoh-tokoh besar yang semula tidak siapa-siapa, namun karena dia berani menantang badai dan mampu menaklukannya, mereka yang semula biasa saja menjadi luar biasa. Ke luar biasaan tersebut bukan hanya diukur dari harta benda yang mereka miliki melainkan dari cita-cita besar yang mereka wujudkan dan sanggup menginspirasi.
Jangan tanya soal cita-cita besar pada Hedon, karena bagi dia, cita-cita hanya motivasi bagi manusia yang masih lemah. Kompetisi sudah menjadi hukum kehidupan, agar manusia tetap ada dalam arena kompetisi, di perlukan cita-cita agar yang lemah punya hasrat untuk menjadi lebih baik.
Jangan tanya siapa yang menciptakan kompetisi dalam kehidupan anggap saja itu hukum alam. Tapi kamu boleh curiga bahwa orang-orang macam Hedonlah yang menciptakan kompetisi tersebut. Bahkan ia dapat menghembuskan badai dan melahirkan pelayar yang tangguh.
Hidup bagaikan mengarungi samudra, terkadang digoncang badai, kadang juga mengalir tenang tanpa goncangan, setiap orang pasti memilih yang kedua, namun tak ada pelayar yang tangguh tanpa menaklukkan amukan badai. Jadi tergantung, mau jadi pelayar yang tangguh mengarungi samudra kehidupan atau ingin menjadi pelayar biasa yang selalu menginginkan ketenangan dan takut pada ujian. Itu semua tergantung masing-masing dari kita, karena kita diberi kebebasan untuk memilih. Yang perlu di ingat pilihat yang baik itu didasari akal dan pertimbangan nurani, bukan salah satunya.
Zaman semakin maju, penghuni bumi makin padat, semuanya menjadi terasa sempit. Kemajuan dari setiap zaman menciptakan badainya sendiri-sendiri dan setiap zaman juga akan memunculkan pelayar yang tangguh yang mampu menaklukkan gelombang badai.
Itu hanya salah satu pandangan terkait memaknai kehidupan, boleh berbeda, seperti temanku, Hedon namanya, gadis periang dari keluarga kelas menengah yang tak pernah pusing memikirkan makna kehidupan. Sebelum ia lahir sudah kaya sebab waktu Hedon masih dalam kandungan ayahnya sudah membelikan ia lima unit pombensin, usaha tersebut berkembang beranak pinak sampai ia dewasa, dan sekarang entah berapa M pendapatan ia perhari. Dia tak pernah merasakan apa itu lapar, apa itu tidur tanpa alas adan hanya berbantal lengan, semua itu tak ada dalam bayangannya. Mulai dari ayahnya, sampai mbah-mbahnya tidak ada riwayat yang menderita penyakit miskin.
Semua orang pasti ingin dilahirkan seperti Hedon. Namun apa mau dikata manusia memiliki garis takdirnya masing-masing. Nasib baik memang tak bisa dipesan, akan tetapi bisa diusahakan selama itu maksimal dan didikung keberuntungan maka nasib baik akan segera menghampirimu.
Lalu dimana bukti makna hidup yang seperti mengarungi samudra, yang hanya akan melahirkan pelayar yang tangguh jika bertemu badai yang mengamuk bukan lautan yang teduh. Bukti makna hidup yang demikian bukan dari cerita si Hedon yang kaya sejak dalam kandungan, akan tetapi lihatlah tokoh-tokoh besar yang semula tidak siapa-siapa, namun karena dia berani menantang badai dan mampu menaklukannya, mereka yang semula biasa saja menjadi luar biasa. Ke luar biasaan tersebut bukan hanya diukur dari harta benda yang mereka miliki melainkan dari cita-cita besar yang mereka wujudkan dan sanggup menginspirasi.
Jangan tanya soal cita-cita besar pada Hedon, karena bagi dia, cita-cita hanya motivasi bagi manusia yang masih lemah. Kompetisi sudah menjadi hukum kehidupan, agar manusia tetap ada dalam arena kompetisi, di perlukan cita-cita agar yang lemah punya hasrat untuk menjadi lebih baik.
Jangan tanya siapa yang menciptakan kompetisi dalam kehidupan anggap saja itu hukum alam. Tapi kamu boleh curiga bahwa orang-orang macam Hedonlah yang menciptakan kompetisi tersebut. Bahkan ia dapat menghembuskan badai dan melahirkan pelayar yang tangguh.
Komentar
Posting Komentar