Saat malam menjelang, Risa, mulai menata kursi kecilnya didekat jendela, agar ia bisa berjumpa dengan bintang jatuh, bintang yang dapat mengabulkan segala permohonan. Bintang mulai menyebar berlatar langit hitam, kerlipnya indah seperti kedipan bayi mungil yang belum terkontaminasi oleh duniawi dan belum mengerti apa itu patah hati, sinar bulan terang dari rembulan yang tak bulat penuh di tanggal sepuluh.
Sesekalai pandangan Risa beralih pada pepohonan diluar jendela, ada bintang-bintang bumi berterbangan, kunang-kunang yang menurut cerita merupakan metamorfosa dari kukunya orang mati. Bising jangkrik yang saling bersahutan, tak terdengar serak suara kodok karena musim kemarau.
Sudah malam ke sepuluh Risa menanti bintang jatuh di balik jendela kamarnya. Itu berarti sudah sepuluh hari juga ia menahan sakitnya kehilangan, tak ada yang lebih menyakitkan bercampur kekecewaan dari pada penghianatan dari orang yang dicintai, ditambah kenangan manis yang terakumulasi selama empat tahun dalam hubungan asmara yang ia rajut berdua, dan kini semua menjadi pahit.
Setiap ia mengenang masa indah bersama Rian, dadanya terasa sesak dan air matanya membasahi pipi merahnya. Pipi yang dahulu menjadi tumpahan rasa kegemesan Rian sekarang menjadi tempat jatuhnya air mata kesedihan. Kenangan manispun terasa pahit akibat rasa kecewa yang mendalam, penghianatan seperti belati tajam yang menyayat hati menjadi berkeping-keping. "Ini kah harga dari sebuah kesetian" kata Risa sambil menggenggam surat undangan pernikahan, kata-kata itu selalu Risa katakan berulang-ulang dengan terbata-bata sambil mencoba menahan air mata, seolah ia tak percaya dengan apa yang menimpanya. Memang manusia tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dengannya, karena yang akan terjadi adalah misteri semesta yang berjalan seirama membentuk takdir yang tak ada satu setanpun mampu memprediksinya. Harapan dari menjalin asmara adalah keabadian, karena bagi orang yang mencintai akan takut dengan kehilangan, kehilangan akan membuat remuk. Dan semua orang tak mau itu terjadi.
Setelah sebulan Risa tak mendapat kabar dari Rian, tiba-tiba undangan pernikahan itu datang dan seketika semua menjadi hambar, undangan pernikahan yang dihias dengan bagus bermotif bunga-bunga terasa berduri saat Risa genggam, seketika ia lemparkan, dan ia pungut kembali untuk memastikan apakah ia tidak salah baca, sampai beberapa kali lempar-pungut undangan dilakukan Risa.
Sejak saat itu Risa menjadi pemurung dan saat malam menjelang ia selalu menantikan bintang jatuh, di balik jendela kamarnya. Ia yakin dengan kekuatan bintang jatuh yang mampu mengabulkan semua yang manusia inginkan, asalkan dengan ketulusan, keyakinan akan kekuatan bintang jatuh itu datang dari Rian, katanya ia pernah di kabulkan harapannya.
"bintang jatuh telah menjawab harapan yang aku panjatkan, Risa"
"Mana bisa bintang jatuh mengabulkan harapan" debat Risa setengah tak percaya.
"Kamu jangan meremehkan kekuatan bintang jatuh, karena aku sudah membuktikannya"
"Memang apa buktinya" tanya Risa penasaran.
"Buktinya kamu ahirnya menerima cintaku. Dan suatu saat nanti, ketika aku berjumpa bintang jatuh lagi, aku akan berdoa agar cinta kita abadi selamanya"
Diawal mereka pacaran Rian bercerita tentang kekuatan bintang jatuh yang mampu mengabulkan harapannya, dan kisah itu sampai sekarang membekas dalam hati Risa. Tak hanya Rian yang pernah mendapatkan keajaiban dari bintang jatuh, pembantu Risa juga tak lama pernah bercerita tentang keajaiban bintang jatuh. "Non Ris, ahirnya perut bibik isi," setelah penantian selama enam tahun dari usia pernikahan ahirnya hamil, "sebulan yang lalu bibi, memohon dengan tulus bersamaan dengan jatuhnya bintang agar bibi cepat dikarunia keturunan." Cerita itu semakin membuat hati Risa yakin akan kekuatan bintang jatuh.
Sebulan lagi pernikahan Rian akan diselenggarakan, itu artinya masih ada waktu dan masih ada harapan agar pernikahan Rian gagal, rasa cinta yang mendalam begitu kuat dihati Risa hingga ia tak sanggup menghadapi rasa kehilangan. Risa terus bersabar menunggu bintang jatuh tiba, dan ia akan ungkapkan harapannya. Harapan yang mungkin jahat bagi istrinya Rian dan kedua keluarga besarnya, tapi bagi Risa kejahatan yang sesungguhnya adalah penghianatan.
Di hari ke dua puluh bintang jatuh tak kunjung risa jumpai, hanya kerlip bintang, rasi bintang, bintang tua yang mulai redup dan sinar rembulan yang tampak menghiasi gelapnya angkasa, semesta tanpa seni andaikan tanpa bulan dan bintang. Dan Risa tetap sabar menunggu bintang jatuh, dibalik keberhasilan ada rasa sabar yang begitu besar, kata-kata itu yang ia selalu pegang untuk menguatkan penantiannya.
****
Di kamar kecil dengan jendela berkaca bening menjadi tempat Risa menguras kesdihannya, angan melayang menerobos kenangan bersama Rian, saat-saat indah itu selalu hadir melintas masuk tanpa permisi dalam pikiran, momen ketika Rian memberikan boneka besar sebagai hadiah ulang tahun yang kini ia peluk erat. Kenangan memang telah lampau tapi bekasnya akan menjadi jejak yang tersimpan rapi didalam memori.
Prilaku Risa cepat disadari ibunya. Di hari ke sepuluh kesedihan yang dilanda Risa semakin berat, air mata mengalir deras menguras hati yang semakin kering disiksa oleh penghianatan, janji setia kini hanya tinggal janji. Lebam mata Risa akibat menagis tak mampu ia sembunyikan dari penglihatan ibunya. Dipeluknya erat tubuh Risa sambil berbisik "kenapa buah hatiku?" Pelukan hangat penuh ketulusan membuat Risa tenang. "Ayo, cerita sama ibu, biar kesedihanmu tak menyumbat hatimu."
"Rian, Ma !" "Kenapa dengan nya?" Sambil menghela nafas dan mengusap air mata ia bercerita tentang pernikahan Rian yang tinggal sebentar lagi.
"Mungkin Tuhan akan memilihkanmu yang lebih baik dari Rian, seberapapun kamu berharap tak akan mampu kau menentang dengan apa yang telah di gariskan Tuhan, bahkan beribu kalipun kau menjumpai bintang jatuh dan memohon agar pernikahan itu gagal tak akan pernah terkabulkan. Ingat cinta itu kumpulan kasih sayang yang tulus tanpa syarat, jadi ketika kamu dendam dengan mendoakan agar pernikahan itu gagal itu berarti kamu sudah tidak cinta lagi, melainkan kebencian yang telah mematikan cintamu. Sudah jangan bersedih, mending belajar buat persiapan masuk perguruan tinggi, ingat di tanah air kita banyak pemuda-pemudi yang mudah galau karena cinta sehingga lupa belajar, akibatnya kita menjadi bangsa yang tertinggal. Jangan larut dengan kesedihan, masa depanmu masih panjang, istirahatlah, mama lihat sudah beberapa hari ini kamu begadang, jangan kau tunggu lagi bintang jatuh, karena diapun tak mampu menyelamatkan dirinya saat jatuh, apalagi mengabulkan permintaanmu." Jarum jam menunjukkan angka sebelas dan malam tetap melaju bersama bintang dan terang bulan. Dan Risa menjadi tenang dengan nasehat ibunya.
Sesekalai pandangan Risa beralih pada pepohonan diluar jendela, ada bintang-bintang bumi berterbangan, kunang-kunang yang menurut cerita merupakan metamorfosa dari kukunya orang mati. Bising jangkrik yang saling bersahutan, tak terdengar serak suara kodok karena musim kemarau.
Sudah malam ke sepuluh Risa menanti bintang jatuh di balik jendela kamarnya. Itu berarti sudah sepuluh hari juga ia menahan sakitnya kehilangan, tak ada yang lebih menyakitkan bercampur kekecewaan dari pada penghianatan dari orang yang dicintai, ditambah kenangan manis yang terakumulasi selama empat tahun dalam hubungan asmara yang ia rajut berdua, dan kini semua menjadi pahit.
Setiap ia mengenang masa indah bersama Rian, dadanya terasa sesak dan air matanya membasahi pipi merahnya. Pipi yang dahulu menjadi tumpahan rasa kegemesan Rian sekarang menjadi tempat jatuhnya air mata kesedihan. Kenangan manispun terasa pahit akibat rasa kecewa yang mendalam, penghianatan seperti belati tajam yang menyayat hati menjadi berkeping-keping. "Ini kah harga dari sebuah kesetian" kata Risa sambil menggenggam surat undangan pernikahan, kata-kata itu selalu Risa katakan berulang-ulang dengan terbata-bata sambil mencoba menahan air mata, seolah ia tak percaya dengan apa yang menimpanya. Memang manusia tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dengannya, karena yang akan terjadi adalah misteri semesta yang berjalan seirama membentuk takdir yang tak ada satu setanpun mampu memprediksinya. Harapan dari menjalin asmara adalah keabadian, karena bagi orang yang mencintai akan takut dengan kehilangan, kehilangan akan membuat remuk. Dan semua orang tak mau itu terjadi.
Setelah sebulan Risa tak mendapat kabar dari Rian, tiba-tiba undangan pernikahan itu datang dan seketika semua menjadi hambar, undangan pernikahan yang dihias dengan bagus bermotif bunga-bunga terasa berduri saat Risa genggam, seketika ia lemparkan, dan ia pungut kembali untuk memastikan apakah ia tidak salah baca, sampai beberapa kali lempar-pungut undangan dilakukan Risa.
Sejak saat itu Risa menjadi pemurung dan saat malam menjelang ia selalu menantikan bintang jatuh, di balik jendela kamarnya. Ia yakin dengan kekuatan bintang jatuh yang mampu mengabulkan semua yang manusia inginkan, asalkan dengan ketulusan, keyakinan akan kekuatan bintang jatuh itu datang dari Rian, katanya ia pernah di kabulkan harapannya.
"bintang jatuh telah menjawab harapan yang aku panjatkan, Risa"
"Mana bisa bintang jatuh mengabulkan harapan" debat Risa setengah tak percaya.
"Kamu jangan meremehkan kekuatan bintang jatuh, karena aku sudah membuktikannya"
"Memang apa buktinya" tanya Risa penasaran.
"Buktinya kamu ahirnya menerima cintaku. Dan suatu saat nanti, ketika aku berjumpa bintang jatuh lagi, aku akan berdoa agar cinta kita abadi selamanya"
Diawal mereka pacaran Rian bercerita tentang kekuatan bintang jatuh yang mampu mengabulkan harapannya, dan kisah itu sampai sekarang membekas dalam hati Risa. Tak hanya Rian yang pernah mendapatkan keajaiban dari bintang jatuh, pembantu Risa juga tak lama pernah bercerita tentang keajaiban bintang jatuh. "Non Ris, ahirnya perut bibik isi," setelah penantian selama enam tahun dari usia pernikahan ahirnya hamil, "sebulan yang lalu bibi, memohon dengan tulus bersamaan dengan jatuhnya bintang agar bibi cepat dikarunia keturunan." Cerita itu semakin membuat hati Risa yakin akan kekuatan bintang jatuh.
Sebulan lagi pernikahan Rian akan diselenggarakan, itu artinya masih ada waktu dan masih ada harapan agar pernikahan Rian gagal, rasa cinta yang mendalam begitu kuat dihati Risa hingga ia tak sanggup menghadapi rasa kehilangan. Risa terus bersabar menunggu bintang jatuh tiba, dan ia akan ungkapkan harapannya. Harapan yang mungkin jahat bagi istrinya Rian dan kedua keluarga besarnya, tapi bagi Risa kejahatan yang sesungguhnya adalah penghianatan.
Di hari ke dua puluh bintang jatuh tak kunjung risa jumpai, hanya kerlip bintang, rasi bintang, bintang tua yang mulai redup dan sinar rembulan yang tampak menghiasi gelapnya angkasa, semesta tanpa seni andaikan tanpa bulan dan bintang. Dan Risa tetap sabar menunggu bintang jatuh, dibalik keberhasilan ada rasa sabar yang begitu besar, kata-kata itu yang ia selalu pegang untuk menguatkan penantiannya.
****
Di kamar kecil dengan jendela berkaca bening menjadi tempat Risa menguras kesdihannya, angan melayang menerobos kenangan bersama Rian, saat-saat indah itu selalu hadir melintas masuk tanpa permisi dalam pikiran, momen ketika Rian memberikan boneka besar sebagai hadiah ulang tahun yang kini ia peluk erat. Kenangan memang telah lampau tapi bekasnya akan menjadi jejak yang tersimpan rapi didalam memori.
Prilaku Risa cepat disadari ibunya. Di hari ke sepuluh kesedihan yang dilanda Risa semakin berat, air mata mengalir deras menguras hati yang semakin kering disiksa oleh penghianatan, janji setia kini hanya tinggal janji. Lebam mata Risa akibat menagis tak mampu ia sembunyikan dari penglihatan ibunya. Dipeluknya erat tubuh Risa sambil berbisik "kenapa buah hatiku?" Pelukan hangat penuh ketulusan membuat Risa tenang. "Ayo, cerita sama ibu, biar kesedihanmu tak menyumbat hatimu."
"Rian, Ma !" "Kenapa dengan nya?" Sambil menghela nafas dan mengusap air mata ia bercerita tentang pernikahan Rian yang tinggal sebentar lagi.
"Mungkin Tuhan akan memilihkanmu yang lebih baik dari Rian, seberapapun kamu berharap tak akan mampu kau menentang dengan apa yang telah di gariskan Tuhan, bahkan beribu kalipun kau menjumpai bintang jatuh dan memohon agar pernikahan itu gagal tak akan pernah terkabulkan. Ingat cinta itu kumpulan kasih sayang yang tulus tanpa syarat, jadi ketika kamu dendam dengan mendoakan agar pernikahan itu gagal itu berarti kamu sudah tidak cinta lagi, melainkan kebencian yang telah mematikan cintamu. Sudah jangan bersedih, mending belajar buat persiapan masuk perguruan tinggi, ingat di tanah air kita banyak pemuda-pemudi yang mudah galau karena cinta sehingga lupa belajar, akibatnya kita menjadi bangsa yang tertinggal. Jangan larut dengan kesedihan, masa depanmu masih panjang, istirahatlah, mama lihat sudah beberapa hari ini kamu begadang, jangan kau tunggu lagi bintang jatuh, karena diapun tak mampu menyelamatkan dirinya saat jatuh, apalagi mengabulkan permintaanmu." Jarum jam menunjukkan angka sebelas dan malam tetap melaju bersama bintang dan terang bulan. Dan Risa menjadi tenang dengan nasehat ibunya.
Komentar
Posting Komentar