Langsung ke konten utama

Keracunan

Terik matahari mengguyur desa Karang Jati, tak ada tanaman yang mampu tumbuh saat musim kemarau, daun-daun jati kecklotan berjatuhan, meranggas mengurangi beban penghidupan. Bocah-bocah asik main dengan layang-layang di hemparan ladang gersang.

Tono jatuh tersungkur setelah ia berhasil menerbangkan layangan, matanya berkunang-kunang, dia ter geletak diatas tanah kering kerontang bersama benang layang-layang. Dengan sigap sukri mengamankan benang layang agar terkendali. Layang-layang mengudara dengan indah dan ekor panjang yang di pasang untuk menyetabilkan penerbangan.

Tak lama setealah Sukri menambatkan benang pada salah satu pohon jarak yang tak baerdaun sama sekali, Sukri tersungkur ke tanah menyusul Tono yang dalam niat Sukri akan menolongnya.

Tiga kanak-kanak yang sedari tadi bermain kejar-kejaran terhenti dan mengerumuni Tono dan Sukri. Mereka bertanya-tanya. Kenapa Tono sama Sukri pingsan tak sadarkan diri.

Paijo mencoba menjelaskan. Jangan-jangan Tono dan Sukri lemes belum makan hingga mereka tersungkur tak berdaya. Ahhhhh gak mungkin lah, cuma gara-gara belum sarapan pingsan, kita kan sudah terbiasa tidak makan. Sela Ucup. Memang desa Karang Jati tempat kemiskinan bersarang apa lagi di musim kemarau. Jadwal makan hanya sekali sehari, itu pun dengan menu ketela rambat, kadang olahan pelok/biji mangga yang disimpan sebagai cadangan saat paceklik datang.

Atau jangan-jangan Tono dan Sukri tadi kencing di lubang dekat bambu. Disana kan terkenal angker. Kata bapakku kalau main-main dekat bambu harus pamit "bahwa saya putu buyut Soko" tutur ayih sambil mungusap pundak Tono yang sedari tadi tersungkur di dekat Sukri.

Kalau gitu kita gotong saja ke gubuk mbah Kasan, biar disana ia di "sambet" usul Ucup. Tak jauh dari hamparan pematang terdapat gubuk kecil ter bambu beratap rumbia, di huni oleh kakek-kakek. Ada sumur kecil di belakang gubuk, disaat musim kering warga mengungsi di sumur Mbah kasan. Di depan gubuk terdapat pohon mangga, ia selalu berbuah tanpa pandang musim. Di bawah pohon mangga terdapat beberapa ternak domba bermain di balik bayang pohon mangga untuk menghindari panas yang menyengat.

***

Fajar merah melintas di langit timur, membentang dari utara sampai titik selatan, matahari muncul di bawah fajar merah. Suara burung kekek tak kunjung berhenti, ternak mulai keluar dari kandang. Embun cepat tersapu oleh terik. Kanak-kanak selalu keluar dipagi hari menggembala ternak di pematang, orang Karang Jati tak mengenal sekolah, tak ada yang pernah makan bangku sekolahan, sekolah mereka adalah pematang, teman sebangku adalah hewan ternak, pelajaran mereka adalah menggembala. Tak ada buku, pul pen tas, yang ada arit dan keranjang rumput.

Udara lembab bercampur embun pagi Tono dan Sukri menyusuri kandang ternak pak lurah, mereka berdua dari kemarin merencanakan akan ke kandang pak lurah. Ternak paling banyak di desa Karang Jati adalah milik pak lurah, sapi besar 10 ekor, belum lagi yang masih pedet ada 6 ekor, kambing yang jumlahnya 40an, sapi mempunyai perawat kusus dari orang dewasa Karang Jati, kang Tasrun dan istrinya yang menjadi buruh merawat ternak sapi pak lurah. Puluhan kambing akan dirawat kanak-kanak, yang menjadi langganan menggembala kambing milik pak lurah adalah Tono dan Sukri, mereka berdua rutin setiap pagi menggembala kambing pak lurah karena keduanya tak punya gembala, orang tua mereka hanya buruh tani yang pada saat musim kemarau orang tua mereka pindah ke pelabuhan Tanjung Perak 30 Km dari desa Karang Jati, dipelabuhan menjadi kuli panggul demi menyambung hidup.

Desa Karang Jati tulang punggung ekonominya adalah lahan pertanian, namun disini tak ada sungai besar yang mampu menjadi tumpuan irigrasi bagi tanah-tanah masyarakat. Lahan pertanian tadah hujan jika di landa musim kering maka tak ada tanaman yang mau tumbuh, musim kemarau menjadi ancaman orang-orang Karang Jati sehingga banyak yang memilih hijrah kepelabuhan untuk menyambung hidup.

Saat kemarau kanak-kanak dituntut menjadi mandiri, terutama Tono dan Sukri yang memang lahir dari keluarga melarat, ya begitulah nasib manusia terlalu lemah menentukan garis takdir, hingga Tono dan Sukri tak mampu memilih menjadi anak orang kaya yang tak perlu kerja keras untuk sekedar hidup.

Tono dan Sukri membersihkan kandang, sebelum ternak di giring kepetang mereka menyapu kotoran dan di buang di belakang, temoat itu penuh kotoran basah, soalnya yang kering sudah diangkut dijadikan kompos. "Kri sini" panggil tono, yang sedari tadi mencabut jamur yang tumbuh di dekat kotoran ternak. Sebentar Ton, ini nanggung tinggal sedikit lagi kandang bersih" di keruknya sisa makanan dan kotoran ternak dan di buang di gunungan kletong. Aroma busuk menjadi sahabat mereka tak ada jijik yang nampak dari raut wajah mungil polos anak uisia sembilan tahun. "Ayo kri kita sarapan pagi ini, kita bakar jamur di pematang."

Dibawanya empat genggam jamur ditaruh di keranjang rumput. Pak lurah hanya memberi makan menjelang sore saat mereka mengandangkan kembali kambing-kambing.
Dengan semangat Sukri "banyak banget Ton, bisa kenyang kita, nanti aku tak cari kayu bakar"
"iya Kri, cari blarak kering kalau gak klaras daun jati, biar mudah terbakar, lagian jamur gak butuh waktu yang lama untuk di panggang."
"Iya Ton, yang penting kita kenyang, masak jadwal makan kita kalah dengan kambing pak lurah."
Mereka berdua berrjalan menyusuri pematang sambil menggiring ternak mencari tempat yang hijau, setapak demi setapak dan ini entah sudah yang berapa ribu tapak mereka jalani.

"Kita iket ternak ini di dekat gubuk mbah kasan Ton", pinta Sukri, disana masih ada rumput hijau yang tumbuh. Potongan tanah tempat mbah kasan tinggal merupakan wilayah yang mudah di temukan air, tempatnya agak cekung karena dulunya itu adalah tangah sungai yang sekarang menjadi semakin sempet, sejak sering terjadi penggundulan pohon tandon air oleh para blandongan, air menjadi semakin langka.

Setelah ternak mereka ikat kemudian mereka asik membakar jamur kletong, dengan lahap mereka santap walaupun asap panas masih mengupul pada jamur nampaknya mulut miskin mereka lebih tangguh dan lambung lapar mereka kuat menelan makanan panas.

Selasai sarapan ala kadarnya mereka bermain kepematang kering banyak kanak-kanak bermain disana. Dipantaunya gembalaan mereka dari tempat nereka bermain layang-layang, sambil memastikan kalau tak ada yang ketinggalan atau lepas dari ikatan dan kabur, Sukri menghitung gembalaan, hanya urutan angkalah pelajaran matematika yang ia bisa.

***

Mbah Kasan, mbah..... mbah teriak kanak-kanak gugup sambil memapah Tono dan Sukri, mereka berdua di baringkan di atas lincak.

Tak lama mbah Kasan muncul dari belakang gubuk, dengan memakai camping dan kolor serta arit di tangan kirinya. "Ada apa nak, ko rame-rame kesini" tanya mbah Kasan heran.
Ini mbah, si Tono sama Sukri tiba-tiba pingsan, sepertinya mereka kesambet mbah, jelas Ayih.
"Iya mbah, mbok tulung di suwuk mbah, biar begijile podo minggat" timpal si Paijo.

"Husss, cah cilik gak pareng ngomong gitu, mosok setan kok di curigai sebagai biang keladi pingsannya Tono dan Sukri" dilihatnya kondisi mereka berdua, bibirnya biru kelopak mata memutih, "wah ini gejala keracunan" gumam mbah kasan.

Mbah Kasan selain terkenal jampi-jampinya ia juga mahir dalam ilmu tabib, ilmu yang turun-temurun di wariskan Karang Jati hingga ahirnya jatuh pada mbah Kasan. "Cepat ambil cengkir empat di samping belik, jangan sampai jautuh ke tanah ya!" Dengan segera bocah-bocah melaksanakan perintah mbah Kasan tanpa tanya.

Parjo yang memang ahli memancat kelapa hanya butuh hitungan menit untuk mendapat empat buah cengkir.
"Ini mbah cengkirnya". Dengan arit yang sedari tadi ia genggam mbah Kasan mengupas cengkir. Crakkkkk...... carakkkkk....... crakkkk, arit tajam dengan mudah menguliti cengkir, ia buka paksa mulut Tono dan Sukri dan meminumkan air kelapa muda di mulut mereka, selang berapa menit seluruh isi perut keluar dari mlut mereka berdua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Mutakhir Ancaman Bangsa

 Luthfi ‘Afif *) Dalam berita baru-baru ini sering muncul kejadian pararel, seperti pemboman di paris, isu pemboman pada acara tahun baru, sampai pemboman di jakarta. Kejadian itu seolah-olah sudah menjadi agenda yang terkonsepkan dengan rapi, di payungi dalam agenda teror yang katanya si pengamat di lakukan oeleh ISIS. Sebelumnya ada juga berita yang termasuk dalam rangkaian paralel dalam kejadian yang membahayakan ketika selfi, dari mulai selpi di bibir kawah merapi, ditebing yang curam, sampai di kebun bunga yang berakibat kerusakan. Bentuk rentetan ini walaupun tidak saling terkoordinasikan antara satu dengan yang lain, akan tetapi peristiwa ini tersatukan oleh platfrom yaitu narsisme. Kedua berita tersebut mempunyai kesamaan yaitu; sama-sama caper (pengen exis), sama-sama kurang kerjaan, sama-sama mulgoh (pekerjaan yang sia-sia), dan sama-sama merugikan orang lain. www.nyunyu.com Coba mari sama-sama kita analisa dengan kacamata plus, pertama kesamaan tent...

NAMAKU NICCO

Pada episode ke 10 season II film DAVINCI DEMON mulai terlihat jelas siapa-siapa saja orang-orang di sekeliling Davinci, salah duanya adalah Andrea del Verrocchio yang dalam film sering ia panggil MAESTRO, beliau adalah guru lukis, dari belia Davinci sudah belajar teknik melukis dari sang MAESTRO, ketrampilan yang menakjubkan dari tangan Davinci yang diwariskan kepada peradaban.  Yang kedua adalah Niccollo Macievelli, umurnya jauh lebih muda dari davinci. Dalam film, sejak Macievelli masih kecil sudah berteman dengan Davinci, mereka belajar bersama, berkarya bersama, petualang bersama. Dalam episode-episode sebelumnya belum diperkenalkan nama lengkapnya, pada episode ke 10 Niko baru memperkenalkan diri, pada saat Venessa teman Niko yang mengandung darah dari adipati florence tidak mau untuk kembali istana.  Ini kutipan ucapan Nicco saat berdebat dengan penguasa Florence. "Florence adalah republik. Ini haknya, sebagai warga, untuk memilih bagaimana dan dimana dia ing...

anak zaman

Ada hal yang tidak mungkin dilakukan didunia ini, yaitu berdamai dengan waktu. Mengapa demikian, karena ruang dan waktu keduanya menjadi selimut tebal yang membalut jiwa kehidupan. Pepatah mengatakan "alon-alon asal kelaakon" pada saat yang tepat, pepatah itu sangat bijak, namun jika zaman menuntut semua serba cepat akan melibas semua yang lelet. Jawabannya harus tanggap situasi, peka terhadap keluh kesah zaman jika ingin tidak terseret. Disaat desa tidak bisa berbuat banyak, disaat generasi enggan mewarisi pola kehidupan pendahulu akan terjadi mutasi kebudayaan. Semua akan di cacah-cacah oleh kemajuan. Mengandalkan adaptasi. Bukankah itu pertahanan yang paling rapuh. Karena hidup bukan hanya mengikuti tanpa eksistensi produksi. Kreatif inovatif menjadi permintaan terbesar dari peradaban sekarang. Walaupun alam produktik akan tetapi tak ada skil pada penghuni yang tak menggunakan akal maka akan terlindas juga oleh kecepatan ide besar yang mampu merangkum sekaligus m...