Ternyata bukan hanya lolosnya si belut Novan aja yang perlu penjelasan kepublik, tapi ke single an juga butuh rasionalisasi ke publik.
Banyak sekali alasan-alasan teoritis untuk menguatkan argumentasi ke single an. Ada yang karena mengambil sikap untuk menghindari maksiat, ada juga yang beralasan single adalah komitmen, sebagai bentuk penolakan terhadap gaya percintaan anak muda yang penuh kealay an dan di dukung dengan tangan panjangnya yang bernama sosmed. Ada juga yang beralasan buang-buang waktu, uang, tenaga dan fikiran-mending langsung nikah saja--asal jangan di sirri.
Tapi apapun alasannya, pada intinya si single ingin mengatakan pada publik (yang selalu rempong) bahwa apapun keadaan si single itu atas dasar pertimbangan yang rasional dan ingin memberi ketegasan kalau "aku rapopo".
Tapi dari pada bahas single yang sebenarnya itu aib mending bahas mas Novan.
Kalau belum tau tentang dia coba tanya mbah google pasti keluar profil lengkap dia dengan senyum tipis-tipis.
Publik wajib mengakui kesaktian mas Novan, setalah pernah lengser dari singgasananya dia mampu menaiki tahtanya lagi. Kasus catut yang pernah membuat pemrediksi menjadi salah tabak semua karena dia mampu lolos dari ganasnya panggung politik.
Dan kemarin sekali lagi publik harus mengakui kesaktiaannya, lagi-lagi dia mampu lolos dalam kasus e-KTP yang hampir membuatnya tersungkur dari singgananya.
Nah apa sebenarnya yang membuat dia selalu berhasil lolos, benar, salah satunya adalah keberuntungan dan nasib baik, oarang kuat memang selalu di berkati dua hal tersebut.
Tapi ada hal yang lebih penting lagi, itu karena lemahnya hukum dan kesadaran publik.
Banyak sekali alasan-alasan teoritis untuk menguatkan argumentasi ke single an. Ada yang karena mengambil sikap untuk menghindari maksiat, ada juga yang beralasan single adalah komitmen, sebagai bentuk penolakan terhadap gaya percintaan anak muda yang penuh kealay an dan di dukung dengan tangan panjangnya yang bernama sosmed. Ada juga yang beralasan buang-buang waktu, uang, tenaga dan fikiran-mending langsung nikah saja--asal jangan di sirri.
Tapi apapun alasannya, pada intinya si single ingin mengatakan pada publik (yang selalu rempong) bahwa apapun keadaan si single itu atas dasar pertimbangan yang rasional dan ingin memberi ketegasan kalau "aku rapopo".
Tapi dari pada bahas single yang sebenarnya itu aib mending bahas mas Novan.
Kalau belum tau tentang dia coba tanya mbah google pasti keluar profil lengkap dia dengan senyum tipis-tipis.
Publik wajib mengakui kesaktian mas Novan, setalah pernah lengser dari singgasananya dia mampu menaiki tahtanya lagi. Kasus catut yang pernah membuat pemrediksi menjadi salah tabak semua karena dia mampu lolos dari ganasnya panggung politik.
Dan kemarin sekali lagi publik harus mengakui kesaktiaannya, lagi-lagi dia mampu lolos dalam kasus e-KTP yang hampir membuatnya tersungkur dari singgananya.
Nah apa sebenarnya yang membuat dia selalu berhasil lolos, benar, salah satunya adalah keberuntungan dan nasib baik, oarang kuat memang selalu di berkati dua hal tersebut.
Tapi ada hal yang lebih penting lagi, itu karena lemahnya hukum dan kesadaran publik.
Komentar
Posting Komentar