Rembang-jogja, perjalanan yang biasanya memakan waktu paling lama 8 jam dan hari ini 12 jam. Tau kenapa? Gara-gara macet, pembangunan jembatan di daerah demak (kota wali), kota ini gemah ripah lohjinawe, suangainya selalu mengalir air tak memandang musim dan mampu menopang produksi pertanian. Tapi di balik itu ada pemandangan yang aneh, di tengah-tengah kemacetan banyak pengamen dan pengasong tak henti-henti naik turun bus. Ada diantara mereka yang masih dibawah umur, perempuan juga ada.
Para pengamen dengan suara yang variatif cukup menghibur dengan begron tanaman padi dibalik jendela bus yang masih hijau. Namun inilah realita, suatu pemandangan yang kontras, masih ada kemiskinan di balik kesuburan, ironi. Aku tak tau apakah mereka penduduk asli situ atau pendatang.
Pemandangan di kota selanjutnya tak jauh beebeda.
Hingga ahirnya perjalanan membawaku sampai terminal jogja, dan aku harus ganti naik TJ. Disini aku tak mau jujur, waktu tanya arah kekampus temapatku belajar, aku bertanya "amplas" bukan nama kampusku, karena ada rasa malu mengakui almamterku.
Para pengamen dengan suara yang variatif cukup menghibur dengan begron tanaman padi dibalik jendela bus yang masih hijau. Namun inilah realita, suatu pemandangan yang kontras, masih ada kemiskinan di balik kesuburan, ironi. Aku tak tau apakah mereka penduduk asli situ atau pendatang.
Pemandangan di kota selanjutnya tak jauh beebeda.
Hingga ahirnya perjalanan membawaku sampai terminal jogja, dan aku harus ganti naik TJ. Disini aku tak mau jujur, waktu tanya arah kekampus temapatku belajar, aku bertanya "amplas" bukan nama kampusku, karena ada rasa malu mengakui almamterku.
Komentar
Posting Komentar