Undangan dalam group WA selama tiga hari belakangan ini berisi NOBAR film G30s. Tak tanggung-tanggung, didalam undangan ada iming-iming fasilitas:
1. Tersedia 500 nasi kambing
2. Cemilan, kacang rebus dan aneka macam makanan ringan yang akan menemani penonton sampai film selesai. Ohhh, ada satu lagi lupa, acara ini juga dapat minum, natar keselek. Tapi merek minumannya saya belum mendapat informasi, kemungkinan apapun makannaanya minumnya pasti cair.
Sungguh sangat menggiurkan, apalagi bagi mahasiswa rantau yang pas momen krisis di penghujung bulan. Cuma datang duduk pura-pura nonton dan perut kenyang. Tawaran yang sulit di tolak bung. Walaupun sangat dilematis, kalau datang ini menciderai kewarasan intelektual, padahal tiap hari bahasannya ekopol dan filsafat MDH. Tidak datang tapi dapat iming-iming yang menggiurkan.
Ambil jalan tengah, berangkat mengatasnamakan melihat dan mencoba menjajaki logika berfikir orang-orang yang susah diajak waras dan yang jelas tujuan utama tercapai, dapat makan geratis.
Dalam kondisi yang masih dilematis ahirnya ku putuskan untuk berangkat.
Dalam perjalanan menuju lokasi NOBAR sudah terbayangkan, pasti ada ceramah monolog beris tentang propaganda segala kebangsatan keasuan komunisme. Dan ternyata memang benar demikian adanya.
Sembari proyektor dipersiapkan, ada pidato untuk sebagai mengantarkan penonton pada film yang akan di tayangkan. Ditambah lagi dengan provokasi-provokasi yang mengatakan PKI sudah mulai bangkit, kini keturunan pemberontak itu sudah mengisai pemerintahan, wuihhh ngeri, dalam hati aku menjawab yang ketirunan pemberontak non PKI juga banyak kenapa gak disebut, sebut saja tu om prab keturunan anak Soemitro Djojohadikusumo anggota kabinet di pemerintahan PRRI/Permesta. Juga itu si om yang membentuk salah satu partai dia anaknya Danu Muhammad mantan panglima DI/TII untuk wilayah Indramayu.
Tapi semua itu kusimpan dalam hati yang terdalam, kukuatkan hatiku, niat awal kesini bukan merusui acara NOBAR melainkan nasi kambing adalah tujuan.
Setelah film mulai, ku coba lihat situasi, banyak yang mengikuti film dengan penuh khidmad dan hening hanya suara adegan film yang terdengar dan suara angin yang menggembus mengantarkan penonton dialam mimpi, banyak diantara mereka yang tertidur, mungkin karena kekenyangan karena harusnya jatahnya satu dia makan tiga, ada yang tidur karena letih kerja seharian demi memperthankan hidup.
Suasananya berbeda dengan NOBAR yang diadakan oleh kawan-kawan mahasiswa beberapa bulan yang lalu, karena belum sempat play sudah ditangi kelompok ormas yang hobi main fisik.
Dan ketika film mendekati ahir, kulihat penonton sudah mulai sepi pulang duluan. Ini ada yang salah dari panitia, saya usul, harusnya logistik dibagikan diahir cak, biar penonton khusuk sampai ahir, logistik adalah kunci untuk mempertahankan penonton agar tetap berada dilokasi sampai ahir, karena makan adalah orientasi utama mereka mengahadiri NOBAR.
Setelah film selesai ehh, ada HP panitia yang berdering, ndilalah ko nada deringnya lagunya mbak inul versi koplo "masa lalu biar lah masa lalu jangan kau ungkit jangan ingatkan lagi" woyo-woyo josssss. Dan semua mata tertuju padanya. Dan akupun terbangun dari tidurku karena perut keroncongan. Aku mulai sadar ternyata itu semua hanya mimpi.
Yah, karena kantuk menyerang dengan mendadak apa mau dikata, cita-cita ingin dapat nasi kambing pupus sudah.
1. Tersedia 500 nasi kambing
2. Cemilan, kacang rebus dan aneka macam makanan ringan yang akan menemani penonton sampai film selesai. Ohhh, ada satu lagi lupa, acara ini juga dapat minum, natar keselek. Tapi merek minumannya saya belum mendapat informasi, kemungkinan apapun makannaanya minumnya pasti cair.
Sungguh sangat menggiurkan, apalagi bagi mahasiswa rantau yang pas momen krisis di penghujung bulan. Cuma datang duduk pura-pura nonton dan perut kenyang. Tawaran yang sulit di tolak bung. Walaupun sangat dilematis, kalau datang ini menciderai kewarasan intelektual, padahal tiap hari bahasannya ekopol dan filsafat MDH. Tidak datang tapi dapat iming-iming yang menggiurkan.
Ambil jalan tengah, berangkat mengatasnamakan melihat dan mencoba menjajaki logika berfikir orang-orang yang susah diajak waras dan yang jelas tujuan utama tercapai, dapat makan geratis.
Dalam kondisi yang masih dilematis ahirnya ku putuskan untuk berangkat.
Dalam perjalanan menuju lokasi NOBAR sudah terbayangkan, pasti ada ceramah monolog beris tentang propaganda segala kebangsatan keasuan komunisme. Dan ternyata memang benar demikian adanya.
Sembari proyektor dipersiapkan, ada pidato untuk sebagai mengantarkan penonton pada film yang akan di tayangkan. Ditambah lagi dengan provokasi-provokasi yang mengatakan PKI sudah mulai bangkit, kini keturunan pemberontak itu sudah mengisai pemerintahan, wuihhh ngeri, dalam hati aku menjawab yang ketirunan pemberontak non PKI juga banyak kenapa gak disebut, sebut saja tu om prab keturunan anak Soemitro Djojohadikusumo anggota kabinet di pemerintahan PRRI/Permesta. Juga itu si om yang membentuk salah satu partai dia anaknya Danu Muhammad mantan panglima DI/TII untuk wilayah Indramayu.
Tapi semua itu kusimpan dalam hati yang terdalam, kukuatkan hatiku, niat awal kesini bukan merusui acara NOBAR melainkan nasi kambing adalah tujuan.
Setelah film mulai, ku coba lihat situasi, banyak yang mengikuti film dengan penuh khidmad dan hening hanya suara adegan film yang terdengar dan suara angin yang menggembus mengantarkan penonton dialam mimpi, banyak diantara mereka yang tertidur, mungkin karena kekenyangan karena harusnya jatahnya satu dia makan tiga, ada yang tidur karena letih kerja seharian demi memperthankan hidup.
Suasananya berbeda dengan NOBAR yang diadakan oleh kawan-kawan mahasiswa beberapa bulan yang lalu, karena belum sempat play sudah ditangi kelompok ormas yang hobi main fisik.
Dan ketika film mendekati ahir, kulihat penonton sudah mulai sepi pulang duluan. Ini ada yang salah dari panitia, saya usul, harusnya logistik dibagikan diahir cak, biar penonton khusuk sampai ahir, logistik adalah kunci untuk mempertahankan penonton agar tetap berada dilokasi sampai ahir, karena makan adalah orientasi utama mereka mengahadiri NOBAR.
Setelah film selesai ehh, ada HP panitia yang berdering, ndilalah ko nada deringnya lagunya mbak inul versi koplo "masa lalu biar lah masa lalu jangan kau ungkit jangan ingatkan lagi" woyo-woyo josssss. Dan semua mata tertuju padanya. Dan akupun terbangun dari tidurku karena perut keroncongan. Aku mulai sadar ternyata itu semua hanya mimpi.
Yah, karena kantuk menyerang dengan mendadak apa mau dikata, cita-cita ingin dapat nasi kambing pupus sudah.
Komentar
Posting Komentar