Apa kabar sayang, kenapa kau tak kunjung datang situasi negara ini sudah lepas dari sang diktator yang dulu pernah mengancam kita semua. Hari semakin terbuka tapi seluruh debu eksploitasi dari segala penjuru negara mengotori rumah kita. Rakyat kita bergumul dengan debu. Kini kita harus berhadapan dengan negara makelar yang telah lama mengencingi kita, mereka diizinkan oleh sang diktator dengan blueprin Jenewa.
Negara kita bagaikan kue yang dipotong-potong tanpa membagi dengan rakyat. Haruskah kita terima perlakuan seperti ini. Kawan aku yakin kamu sekarang juga tau tentang bagaimana keadaan bangsa ini. Ketika sipil memimpin banyak yang ingin menggoyang tahtanya, apalagi pemimpin kita cenderung pro terhadap rakyat, walaupun jalan yang ditempuh dengan praktek kapitalisasi masyarakat. Memang sangat rumit mengurai benang kusut dari praktek liberalisasi yang ditanamkan selama lebih dari 30tahun dengan konsep otoriter birokrasi.
Apa kabar sayang, aku rindu kekritisanmu ketika kita duduk berdiskusi dan mencaci maki pemerintahan korup, dan dingin malam menusuk sepi sampai kedalam tulang, saat fajar menyingsing kita meluapkan mimpi yang tertuda sambil menghindari pembodohan.
Negara kita bagaikan kue yang dipotong-potong tanpa membagi dengan rakyat. Haruskah kita terima perlakuan seperti ini. Kawan aku yakin kamu sekarang juga tau tentang bagaimana keadaan bangsa ini. Ketika sipil memimpin banyak yang ingin menggoyang tahtanya, apalagi pemimpin kita cenderung pro terhadap rakyat, walaupun jalan yang ditempuh dengan praktek kapitalisasi masyarakat. Memang sangat rumit mengurai benang kusut dari praktek liberalisasi yang ditanamkan selama lebih dari 30tahun dengan konsep otoriter birokrasi.
Apa kabar sayang, aku rindu kekritisanmu ketika kita duduk berdiskusi dan mencaci maki pemerintahan korup, dan dingin malam menusuk sepi sampai kedalam tulang, saat fajar menyingsing kita meluapkan mimpi yang tertuda sambil menghindari pembodohan.
Komentar
Posting Komentar