Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan memori melawan lupa.
Sabda Kundera begitu memukau, karena mewakili peristiwa yang terjadi di ceko, saat tiang gantungan menjadi saksi bisu meregang nyawa mentri luar negri. Kundera tidak meratapi masalalu, dia beranggapan mengingat dan melupakan merupakan tindakan politis, keduanya berada pada ranah politik, sejarah, dan kehidupan pribadi.
Dalam rentetan narasi sejarah Indonesia banyak sekali yang perlu di ingat dan untuk di pelajari, bukan untuk memojokkan golongan satu dengan yang lain. Namun yang terjadi demikian masalalu diseret kembali kedalam gelanggang politik sehingga bukan pelajaran yang didapatkan akan tetapi malah tambah memperkeruh keadaan.
Masalalu di goreng ulang dan ditambah dengan bumbu dramatis agar lebih gurih dan lezat untuk dikonsumsi masyarakat, 65 menjadi menu tahunan yang tak kunjung selesai dihidangkan. Ditambah dengan pernyataan bangkitnya kembali partai yang telah di larang dengan 15000 anggota yang entah dari mana sumbernya.
65 menjadi tahun yang kelam, ribuan nyawa melayang dan banyak yang tak tau apa-apa menjadi korban. Tahta yang diraih setelah peristiwa itu syarat akan darah. Ini tragedi kemanusiaan yang haram hukumnya untuk dilupakan.
Ada yang ingin menolak lupa, juga ada yang ingin menolak ingat. Masing-masing pihak harus mendapatkan porsi sama agar semuanya terakomodir. Namun bukan persoalan mencari siapa yang benar, sejarah mana yang benar, semuanya mempunyai tafsir masing-masing sesuai kepentingan. Namun akankah kepntingan itu akan mengalahkan naluri kemanusian.
Sabda Kundera begitu memukau, karena mewakili peristiwa yang terjadi di ceko, saat tiang gantungan menjadi saksi bisu meregang nyawa mentri luar negri. Kundera tidak meratapi masalalu, dia beranggapan mengingat dan melupakan merupakan tindakan politis, keduanya berada pada ranah politik, sejarah, dan kehidupan pribadi.
Dalam rentetan narasi sejarah Indonesia banyak sekali yang perlu di ingat dan untuk di pelajari, bukan untuk memojokkan golongan satu dengan yang lain. Namun yang terjadi demikian masalalu diseret kembali kedalam gelanggang politik sehingga bukan pelajaran yang didapatkan akan tetapi malah tambah memperkeruh keadaan.
Masalalu di goreng ulang dan ditambah dengan bumbu dramatis agar lebih gurih dan lezat untuk dikonsumsi masyarakat, 65 menjadi menu tahunan yang tak kunjung selesai dihidangkan. Ditambah dengan pernyataan bangkitnya kembali partai yang telah di larang dengan 15000 anggota yang entah dari mana sumbernya.
65 menjadi tahun yang kelam, ribuan nyawa melayang dan banyak yang tak tau apa-apa menjadi korban. Tahta yang diraih setelah peristiwa itu syarat akan darah. Ini tragedi kemanusiaan yang haram hukumnya untuk dilupakan.
Ada yang ingin menolak lupa, juga ada yang ingin menolak ingat. Masing-masing pihak harus mendapatkan porsi sama agar semuanya terakomodir. Namun bukan persoalan mencari siapa yang benar, sejarah mana yang benar, semuanya mempunyai tafsir masing-masing sesuai kepentingan. Namun akankah kepntingan itu akan mengalahkan naluri kemanusian.
Komentar
Posting Komentar