Pada yang tak bertuan. Untuk siapa rasa lapar kau persembahkan? Bukankah setiap hari kita terpaksa lapar karena lumbung kita telaj punah dimakan api kemajuan, kobarannya membakar seluruh cita-cita dan bekal anak cucu. Setiap saat kita mendengar bising buldoser dan truk besar berlalu-lalang juga gemuruh dinamit memuntahkan isi bumi dan membuat nganga mendalam. Hasrat mengejar ketertinggalan yang tidak diimbangi dengan kearifan akan mengakibatkan tergadainya impian anak cucu, kita yang merasa paling bisa mengatur untuk mengarahkan kepada kehidupan yang lebih baik dengan tidak disadari telah menyikat hak generasi mendatang. Semoga kita tidak terlambat menyadari karena waktu menjelang sore, dan disitulah tempat balas dendam demi memuaskan perut yang selalu tak pernah puas menampung segalanya.
Luthfi ‘Afif *) Dalam berita baru-baru ini sering muncul kejadian pararel, seperti pemboman di paris, isu pemboman pada acara tahun baru, sampai pemboman di jakarta. Kejadian itu seolah-olah sudah menjadi agenda yang terkonsepkan dengan rapi, di payungi dalam agenda teror yang katanya si pengamat di lakukan oeleh ISIS. Sebelumnya ada juga berita yang termasuk dalam rangkaian paralel dalam kejadian yang membahayakan ketika selfi, dari mulai selpi di bibir kawah merapi, ditebing yang curam, sampai di kebun bunga yang berakibat kerusakan. Bentuk rentetan ini walaupun tidak saling terkoordinasikan antara satu dengan yang lain, akan tetapi peristiwa ini tersatukan oleh platfrom yaitu narsisme. Kedua berita tersebut mempunyai kesamaan yaitu; sama-sama caper (pengen exis), sama-sama kurang kerjaan, sama-sama mulgoh (pekerjaan yang sia-sia), dan sama-sama merugikan orang lain. www.nyunyu.com Coba mari sama-sama kita analisa dengan kacamata plus, pertama kesamaan tent...
Komentar
Posting Komentar