Langsung ke konten utama

Tipikal Pemimpin

"Serahkan segenap jiwa ragamu kepada ikhtiar menyelamatkan hari kemudian anak cucu kita itu. Agar supaya turunanmu takkan dapat mengatakan, 'bahwa hidupmu ialah hidup sia-sia'."

Tulisan diatas adalah surat yang ditulis Tjipto Mangunkusumo (1886-1943), daia adalah sosok pemimpin yang patut dijadikan suri tauladan bagi generasi saat ini yang lebih memperlihatkan jiwa kekanak-kanakkan dengan gontok-gontokan bahkan sampai adu fisik ketika pemilihan ketua DPD, selain itu pemimpin yang singgah di DPR yang ingin diperlakukan lakukan bag dewa karena merasa memiliki kekebalan hukum hingga dia menolak sangsi untuk tidak boleh keluar negeri karena dicurigai terlibat dalam korupsi e-KTP.

Tipikal pemimpin yang hadir saat ini lebih menampilkan "sepi ing gawe, rame ing pamrih". Berbeda dengan tipikal pemimpin sekaliber Tjipto sebagai pemimpin rakyat pertama yang dibuang oleh pemerintahan kolonial, dia tidak boleh berinteraksi dengan masarakat yang berbahasa Jawa karena pengaruh dia begitu kuat. Kenapa pengaruh Tjipto begitu kuat, karena dia adalah tipekal pemimpin yang "rame ing gawe, sepi ing pamrih", aktifitas dia yang ingin mendorong semangat rakyat untuk yakin bahwa pribumi itu setara dengan para penjajah, pribumi sebagai tuan ruamah tidak boleh dinjak, dihisap, dieksploitasi oleh penjajah. Tjipto tidak memikirkan eksistensinya sendiri, dia lebih berfikir untuk kemerdekaan rakyat dan generasi penerus, dengan perjuangan melawan dominasi belanda yang begitu gigih dan prima walaupun ia tak sempat merasakan kemerdekaan.

Barangkali pemimpin sekarang tidak baca sejarah para pejuang pendiri bangsa, ahirnya mereka hanya bisa berkoar dan merampok uang rakyat demi kepentingan sendiri ataupun golongan. Hingga para pemimpin sekarang hidup dalam kesia-siaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Mutakhir Ancaman Bangsa

 Luthfi ‘Afif *) Dalam berita baru-baru ini sering muncul kejadian pararel, seperti pemboman di paris, isu pemboman pada acara tahun baru, sampai pemboman di jakarta. Kejadian itu seolah-olah sudah menjadi agenda yang terkonsepkan dengan rapi, di payungi dalam agenda teror yang katanya si pengamat di lakukan oeleh ISIS. Sebelumnya ada juga berita yang termasuk dalam rangkaian paralel dalam kejadian yang membahayakan ketika selfi, dari mulai selpi di bibir kawah merapi, ditebing yang curam, sampai di kebun bunga yang berakibat kerusakan. Bentuk rentetan ini walaupun tidak saling terkoordinasikan antara satu dengan yang lain, akan tetapi peristiwa ini tersatukan oleh platfrom yaitu narsisme. Kedua berita tersebut mempunyai kesamaan yaitu; sama-sama caper (pengen exis), sama-sama kurang kerjaan, sama-sama mulgoh (pekerjaan yang sia-sia), dan sama-sama merugikan orang lain. www.nyunyu.com Coba mari sama-sama kita analisa dengan kacamata plus, pertama kesamaan tent...

NAMAKU NICCO

Pada episode ke 10 season II film DAVINCI DEMON mulai terlihat jelas siapa-siapa saja orang-orang di sekeliling Davinci, salah duanya adalah Andrea del Verrocchio yang dalam film sering ia panggil MAESTRO, beliau adalah guru lukis, dari belia Davinci sudah belajar teknik melukis dari sang MAESTRO, ketrampilan yang menakjubkan dari tangan Davinci yang diwariskan kepada peradaban.  Yang kedua adalah Niccollo Macievelli, umurnya jauh lebih muda dari davinci. Dalam film, sejak Macievelli masih kecil sudah berteman dengan Davinci, mereka belajar bersama, berkarya bersama, petualang bersama. Dalam episode-episode sebelumnya belum diperkenalkan nama lengkapnya, pada episode ke 10 Niko baru memperkenalkan diri, pada saat Venessa teman Niko yang mengandung darah dari adipati florence tidak mau untuk kembali istana.  Ini kutipan ucapan Nicco saat berdebat dengan penguasa Florence. "Florence adalah republik. Ini haknya, sebagai warga, untuk memilih bagaimana dan dimana dia ing...

anak zaman

Ada hal yang tidak mungkin dilakukan didunia ini, yaitu berdamai dengan waktu. Mengapa demikian, karena ruang dan waktu keduanya menjadi selimut tebal yang membalut jiwa kehidupan. Pepatah mengatakan "alon-alon asal kelaakon" pada saat yang tepat, pepatah itu sangat bijak, namun jika zaman menuntut semua serba cepat akan melibas semua yang lelet. Jawabannya harus tanggap situasi, peka terhadap keluh kesah zaman jika ingin tidak terseret. Disaat desa tidak bisa berbuat banyak, disaat generasi enggan mewarisi pola kehidupan pendahulu akan terjadi mutasi kebudayaan. Semua akan di cacah-cacah oleh kemajuan. Mengandalkan adaptasi. Bukankah itu pertahanan yang paling rapuh. Karena hidup bukan hanya mengikuti tanpa eksistensi produksi. Kreatif inovatif menjadi permintaan terbesar dari peradaban sekarang. Walaupun alam produktik akan tetapi tak ada skil pada penghuni yang tak menggunakan akal maka akan terlindas juga oleh kecepatan ide besar yang mampu merangkum sekaligus m...