Sore kemaren dengan motor pitung aku dan kawan-kawan berburu keindahan ditengah kota jogja yang mulai berhenti nyaman karena jalanan padat mulai macet, pembangunan menghantam tata ruang lama sekitar perjalanan mutar-mutar 14 kilo meter menjelajah tugu-malioboro-hingga dibawah jembatan stasiun tugu dari bergai tempat masih menyuguhkan keindahan sayang ada beberapa bagian yang sulit untuk melihat nanar merah sinar senja karena terhalang oleh bangunan bangunan baru. Sesak, banal, apakah estetika modern memang ketidak beraturan, dekorasi luar mengikis kealamian alam memaksa orang mencari keindahan didalam mol dengan segala macam kepalsuannya. Keindahan yang mengabaikan kealamian dari alam keindahan yang imitatif dari yang mutlak ala plato bukan keindahan yang tasional dan empiris humanis dan natural.
Aku menghindar penat kemacetan dan panasnya persaingan asap dan suara kenalpot menuju bawah jembatan dan sejanak merendam kaki didalam air kali sembari melihat kepolosan kanak-kanak yang sedang asik bermain kapal-kapalan, begitu sederhanya kebahagian tak usah mahal untuk mencoba ice keting. Ya kebahagian itu memang fariatif tapi pada intinya kebahagian itu ungkpan batin yang gembira kadang berwujud haru ataupun tawa. Kebahagian sebagai motif hidup manusia, manusia dalam segala kondisi apapun pasti ingin bahagia yang dirangkum dalam do'a "semoga dapat diberi kebahagiaan dunia maupun akhirat" doa itu sebagai sintesis dari asketisme ataupun hedonisme. Dalam filsafat yunani digambarkan dua mrit dari Skrates yang memaknai kebahagiaan sebagai suatu hal yang metafisik dan yang lain sebagai suatu hal yang materiil, Antithenes dikenal sebagai tokoh aliran asketisme yang menekankan pencapaian kebahagiaan dengan menjauh dari kesenangan-kesenangan materil, sebaliknya Aristippus kemudian dikenal sebagai tokoh aliran hedonisme yang menekankan kebahagiaan dengan pemenuhan kesenangan-kesenangan materil (hedone). Keduanya harus ada pada diri manusia antara yang materiil dan metafisik agar tercipta keseimbangan.
Aku menghindar penat kemacetan dan panasnya persaingan asap dan suara kenalpot menuju bawah jembatan dan sejanak merendam kaki didalam air kali sembari melihat kepolosan kanak-kanak yang sedang asik bermain kapal-kapalan, begitu sederhanya kebahagian tak usah mahal untuk mencoba ice keting. Ya kebahagian itu memang fariatif tapi pada intinya kebahagian itu ungkpan batin yang gembira kadang berwujud haru ataupun tawa. Kebahagian sebagai motif hidup manusia, manusia dalam segala kondisi apapun pasti ingin bahagia yang dirangkum dalam do'a "semoga dapat diberi kebahagiaan dunia maupun akhirat" doa itu sebagai sintesis dari asketisme ataupun hedonisme. Dalam filsafat yunani digambarkan dua mrit dari Skrates yang memaknai kebahagiaan sebagai suatu hal yang metafisik dan yang lain sebagai suatu hal yang materiil, Antithenes dikenal sebagai tokoh aliran asketisme yang menekankan pencapaian kebahagiaan dengan menjauh dari kesenangan-kesenangan materil, sebaliknya Aristippus kemudian dikenal sebagai tokoh aliran hedonisme yang menekankan kebahagiaan dengan pemenuhan kesenangan-kesenangan materil (hedone). Keduanya harus ada pada diri manusia antara yang materiil dan metafisik agar tercipta keseimbangan.
Komentar
Posting Komentar