Pernahkah kalaian mendengar tentang fitrah manusia? Sekilas perkataan itu padu dengan eksistensial drama tanpa naskah. Coba kita bayangkan fitrah adalah tanpa apa-apa dan ketika kita terlempar dalam panggung dunia hanya membawa jerit tangis ketidak siapan. Bukan kah hidup ini adalah tantangan.
Segala bekal mulai kita kumpulkan setelah masa 'sapih' disaat itulah zona zaman mulai terusik, kita terpaksa belajar mengunyah, berjalan, dan meninggalkan rengekan dengan bahasa yang semua orang akan memahaminya.
Perjuangan belum selesai setelah kita mampu berjalan dan berbahasa, arena sosial menuntut orang menjadi kualitas agar manusia tidak menjadi pelaku mimpi orang lain. Manusia harus menciptakan mimpinya sendiri, berkelana dalam samudra kehidupan merasakan gelombang peradaban untuk kita taklukan dalam menemukan jati diri.
Bagi sebagian orang, manusia hidup adalah penderitaan, dunia bagaikan penjara raksasa. Kenapa mereka merasa menderita bahkan seolah tersiksa dalam penjara? Mungkin pegangan pada satu nilai tunggallah jawabanya, dengan segala macam aturan baik berupa anjuran larang yang menjadi peta dalam menjalani kehidupan. Bukan kah itu sangat sederhana dalam menjalakan hidup, ringan karena hanya menjalankan sabda dari yang abadi. Harusnya mereka bahagia bukan menjalani hidup dengan keluh dan kesah. Bukankah perilaku seperti itu adalah sikap putus asa. Naif.
Coba pandangan kita alihkan kepada kaum eksistensial yang menggandrungi dan menatap dengan penuh semangat terhadap kutukan kebesan. Mereka tidak lagi melibatkan sang sutradara dalam mengatur pentas kehidupan. Mereka mengabdikan hidup pada kemanusiaan itu sendiri. Bukankah itu terlalu over percaya diri dalam menyikapi hidup.
Ya, manusia adalah anak zamannya masing-masing, bukan akumulasi dari empirikal ataupun perunungan subjektif yang mengantarkan manusia menjadi subjek paripurna.
Proses penemuan dirilah yang sudah mulai hilang dari fitrah manusia, karena manusia lebih suka menjadi agen pelaksana mimpi dari rancangan sang penemu jati diri, hingga ahirnya manusia hanya bisa mengucapkan "selamt datang, selamat berbelanja".
Segala bekal mulai kita kumpulkan setelah masa 'sapih' disaat itulah zona zaman mulai terusik, kita terpaksa belajar mengunyah, berjalan, dan meninggalkan rengekan dengan bahasa yang semua orang akan memahaminya.
Perjuangan belum selesai setelah kita mampu berjalan dan berbahasa, arena sosial menuntut orang menjadi kualitas agar manusia tidak menjadi pelaku mimpi orang lain. Manusia harus menciptakan mimpinya sendiri, berkelana dalam samudra kehidupan merasakan gelombang peradaban untuk kita taklukan dalam menemukan jati diri.
Bagi sebagian orang, manusia hidup adalah penderitaan, dunia bagaikan penjara raksasa. Kenapa mereka merasa menderita bahkan seolah tersiksa dalam penjara? Mungkin pegangan pada satu nilai tunggallah jawabanya, dengan segala macam aturan baik berupa anjuran larang yang menjadi peta dalam menjalani kehidupan. Bukan kah itu sangat sederhana dalam menjalakan hidup, ringan karena hanya menjalankan sabda dari yang abadi. Harusnya mereka bahagia bukan menjalani hidup dengan keluh dan kesah. Bukankah perilaku seperti itu adalah sikap putus asa. Naif.
Coba pandangan kita alihkan kepada kaum eksistensial yang menggandrungi dan menatap dengan penuh semangat terhadap kutukan kebesan. Mereka tidak lagi melibatkan sang sutradara dalam mengatur pentas kehidupan. Mereka mengabdikan hidup pada kemanusiaan itu sendiri. Bukankah itu terlalu over percaya diri dalam menyikapi hidup.
Ya, manusia adalah anak zamannya masing-masing, bukan akumulasi dari empirikal ataupun perunungan subjektif yang mengantarkan manusia menjadi subjek paripurna.
Proses penemuan dirilah yang sudah mulai hilang dari fitrah manusia, karena manusia lebih suka menjadi agen pelaksana mimpi dari rancangan sang penemu jati diri, hingga ahirnya manusia hanya bisa mengucapkan "selamt datang, selamat berbelanja".
Komentar
Posting Komentar