Langsung ke konten utama

Sang 'Aku'

Pernahkah kalaian mendengar tentang fitrah manusia? Sekilas perkataan itu padu dengan eksistensial drama tanpa naskah. Coba kita bayangkan fitrah adalah tanpa apa-apa dan ketika kita terlempar dalam panggung dunia hanya membawa jerit tangis ketidak siapan. Bukan kah hidup ini adalah tantangan.

Segala bekal mulai kita kumpulkan setelah masa 'sapih' disaat itulah zona zaman mulai terusik, kita terpaksa belajar mengunyah, berjalan, dan meninggalkan rengekan dengan bahasa yang semua orang akan memahaminya.

Perjuangan belum selesai setelah kita mampu berjalan dan berbahasa, arena sosial menuntut orang menjadi kualitas agar manusia tidak menjadi pelaku mimpi orang lain. Manusia harus menciptakan mimpinya sendiri, berkelana dalam samudra kehidupan merasakan gelombang peradaban untuk kita taklukan dalam menemukan jati diri.

Bagi sebagian orang, manusia hidup adalah penderitaan, dunia bagaikan penjara raksasa. Kenapa mereka merasa menderita bahkan seolah tersiksa dalam penjara? Mungkin pegangan pada satu nilai tunggallah jawabanya, dengan segala macam aturan baik berupa anjuran larang yang menjadi peta dalam menjalani kehidupan. Bukan kah itu sangat sederhana dalam menjalakan hidup, ringan karena hanya menjalankan sabda dari yang abadi. Harusnya mereka bahagia bukan menjalani hidup dengan keluh dan kesah. Bukankah perilaku seperti itu adalah sikap putus asa. Naif.

Coba pandangan kita alihkan kepada kaum eksistensial yang menggandrungi dan menatap dengan penuh semangat terhadap kutukan kebesan. Mereka tidak lagi melibatkan sang sutradara dalam mengatur pentas kehidupan. Mereka mengabdikan hidup pada kemanusiaan itu sendiri. Bukankah itu terlalu over percaya diri dalam menyikapi hidup.

Ya, manusia adalah anak zamannya masing-masing, bukan akumulasi dari empirikal ataupun perunungan subjektif yang mengantarkan manusia menjadi subjek paripurna.

Proses penemuan dirilah yang sudah mulai hilang dari fitrah manusia, karena manusia lebih suka menjadi agen pelaksana mimpi dari rancangan sang penemu jati diri, hingga ahirnya manusia hanya bisa mengucapkan "selamt datang, selamat berbelanja".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Mutakhir Ancaman Bangsa

 Luthfi ‘Afif *) Dalam berita baru-baru ini sering muncul kejadian pararel, seperti pemboman di paris, isu pemboman pada acara tahun baru, sampai pemboman di jakarta. Kejadian itu seolah-olah sudah menjadi agenda yang terkonsepkan dengan rapi, di payungi dalam agenda teror yang katanya si pengamat di lakukan oeleh ISIS. Sebelumnya ada juga berita yang termasuk dalam rangkaian paralel dalam kejadian yang membahayakan ketika selfi, dari mulai selpi di bibir kawah merapi, ditebing yang curam, sampai di kebun bunga yang berakibat kerusakan. Bentuk rentetan ini walaupun tidak saling terkoordinasikan antara satu dengan yang lain, akan tetapi peristiwa ini tersatukan oleh platfrom yaitu narsisme. Kedua berita tersebut mempunyai kesamaan yaitu; sama-sama caper (pengen exis), sama-sama kurang kerjaan, sama-sama mulgoh (pekerjaan yang sia-sia), dan sama-sama merugikan orang lain. www.nyunyu.com Coba mari sama-sama kita analisa dengan kacamata plus, pertama kesamaan tent...

NAMAKU NICCO

Pada episode ke 10 season II film DAVINCI DEMON mulai terlihat jelas siapa-siapa saja orang-orang di sekeliling Davinci, salah duanya adalah Andrea del Verrocchio yang dalam film sering ia panggil MAESTRO, beliau adalah guru lukis, dari belia Davinci sudah belajar teknik melukis dari sang MAESTRO, ketrampilan yang menakjubkan dari tangan Davinci yang diwariskan kepada peradaban.  Yang kedua adalah Niccollo Macievelli, umurnya jauh lebih muda dari davinci. Dalam film, sejak Macievelli masih kecil sudah berteman dengan Davinci, mereka belajar bersama, berkarya bersama, petualang bersama. Dalam episode-episode sebelumnya belum diperkenalkan nama lengkapnya, pada episode ke 10 Niko baru memperkenalkan diri, pada saat Venessa teman Niko yang mengandung darah dari adipati florence tidak mau untuk kembali istana.  Ini kutipan ucapan Nicco saat berdebat dengan penguasa Florence. "Florence adalah republik. Ini haknya, sebagai warga, untuk memilih bagaimana dan dimana dia ing...

anak zaman

Ada hal yang tidak mungkin dilakukan didunia ini, yaitu berdamai dengan waktu. Mengapa demikian, karena ruang dan waktu keduanya menjadi selimut tebal yang membalut jiwa kehidupan. Pepatah mengatakan "alon-alon asal kelaakon" pada saat yang tepat, pepatah itu sangat bijak, namun jika zaman menuntut semua serba cepat akan melibas semua yang lelet. Jawabannya harus tanggap situasi, peka terhadap keluh kesah zaman jika ingin tidak terseret. Disaat desa tidak bisa berbuat banyak, disaat generasi enggan mewarisi pola kehidupan pendahulu akan terjadi mutasi kebudayaan. Semua akan di cacah-cacah oleh kemajuan. Mengandalkan adaptasi. Bukankah itu pertahanan yang paling rapuh. Karena hidup bukan hanya mengikuti tanpa eksistensi produksi. Kreatif inovatif menjadi permintaan terbesar dari peradaban sekarang. Walaupun alam produktik akan tetapi tak ada skil pada penghuni yang tak menggunakan akal maka akan terlindas juga oleh kecepatan ide besar yang mampu merangkum sekaligus m...