Sewaktu aku kecil, aku masih menyaksikan bagaimana polah tingkah para perempuan menghiasi ruang publik di desa. Di waktu sore hari, taman sekolah dasar menjadi sentral bermain permainan favorit kami adalah petak umpet, egrang, bentek, dan markasan, peserta permainan bukan hanya kaum lelaki, tetapi para perempuan pun juga ikut terlibat aktif dalam permainan. Waktu sore menjadi taiming yang tepat bagi kami untuk melepaskan penat setelah pagi sekolah, siang kami (laki-perempuan) pergi kekebun membawakan makan siang buat orang tua kami sembari membantu pekerjaannya. Diwaktu sorelah kami bermain, para ibu-ibu leluasa bekerja di kebun, kalaupun mereka punya anak kecil biasanya di rawat neneknya atau di emong kakanya atau titip dengan tetangganya yang mempunyai waktu luang untuk ngemong.
Setelah habis magrib kami (laki-perempuan) ngaji bersama di surau tempat kiai, kita belajar mulai dari mengeja sampai nderes alqur'an sambil menunggu solat isya. Setelah itu kami belajar bareng di rumah pak kadus kadang juga dirumah pak guru kami.
Memang di desa kami belum ada kades ataupun pamong-pamongnya yang diwakili oleh kaum perempuan, namun dalam tiap-tiap keluarga tidak ada dominasi peran antara bapak-ibu, anak laki-perempuan.
Dalam pernikahan, dikenal dengan pernikahan dini lebih khusus bagi perempuan, pernah aku mendapat cerita dari budeku yang di nikahkan pada usia 12 th sedang pakdeku berusia 21 tahun, sangat menggelikan karena budeku di umur 16 baru berani tidur bareng dengan pakdeku. Mungkin motif budaya pernikahan dini sebagai cara agar perempuan jinak sebelum menginjak dewasa, pada usia dewasa terlalu berisiko karena perempuan akan menemukan independensi dalam menentukan langkahnya.
Dalam mengakses pendidikan kebanyakan perempuan hanya lulusan SD. Namun budaya-budaya diatas telah terkikis oleh gelombang zaman, tanpa harus perempuan di desa memperjuangkan haknya. Motif utama yang mendasari perubahan itu adalah transformasi mata pencaharian yang dahulu tanah pertanian menjadi basis.
Transformasi peran berdasarkan kehendak ekonomis yang belum memberikan kesadaran internal pada perempuan. Potret perempuan diatas menggambarkan bagaimana dominasi laki-laki terjadi dalam kasus mengakses hak memimpin dan menentukan jodoh, pendidikan, dan masa depan. Sehingga sayap sebelah kiri dalam kehidupan sosial tidak berfungsi seimbang, akhirnya burung kebudayaan belum bisa terbang menggapai cita-cita kesetaraan.
Setelah habis magrib kami (laki-perempuan) ngaji bersama di surau tempat kiai, kita belajar mulai dari mengeja sampai nderes alqur'an sambil menunggu solat isya. Setelah itu kami belajar bareng di rumah pak kadus kadang juga dirumah pak guru kami.
Memang di desa kami belum ada kades ataupun pamong-pamongnya yang diwakili oleh kaum perempuan, namun dalam tiap-tiap keluarga tidak ada dominasi peran antara bapak-ibu, anak laki-perempuan.
Dalam pernikahan, dikenal dengan pernikahan dini lebih khusus bagi perempuan, pernah aku mendapat cerita dari budeku yang di nikahkan pada usia 12 th sedang pakdeku berusia 21 tahun, sangat menggelikan karena budeku di umur 16 baru berani tidur bareng dengan pakdeku. Mungkin motif budaya pernikahan dini sebagai cara agar perempuan jinak sebelum menginjak dewasa, pada usia dewasa terlalu berisiko karena perempuan akan menemukan independensi dalam menentukan langkahnya.
Dalam mengakses pendidikan kebanyakan perempuan hanya lulusan SD. Namun budaya-budaya diatas telah terkikis oleh gelombang zaman, tanpa harus perempuan di desa memperjuangkan haknya. Motif utama yang mendasari perubahan itu adalah transformasi mata pencaharian yang dahulu tanah pertanian menjadi basis.
Transformasi peran berdasarkan kehendak ekonomis yang belum memberikan kesadaran internal pada perempuan. Potret perempuan diatas menggambarkan bagaimana dominasi laki-laki terjadi dalam kasus mengakses hak memimpin dan menentukan jodoh, pendidikan, dan masa depan. Sehingga sayap sebelah kiri dalam kehidupan sosial tidak berfungsi seimbang, akhirnya burung kebudayaan belum bisa terbang menggapai cita-cita kesetaraan.
Komentar
Posting Komentar