Mbah Plato meyakini kemampuan perempuan bisa setara dengan laki-laki jika keduanya mendapatkan kesempatan yang sama, perempuan sama efektifnya memimpin negara karena sama-sama menggunakan akal. Peran ini menjadi tidak seimbang jikalau kesempatan itu hanya bisa diakses oleh salah satunya yang timbul adalah sikap dominasi.
Berbeda dengan Plato, Aristoteles kurang bijak memandang perempuan, ia menyatakan "perempuan adalah laki-laki yang belum lengkap". Perempuan harusnya dididik bukan mendidik, harusnya dipimpin bukan memimpin. Nada Hegel serupa dengan Aristoteles, bagi hegel perbedaan perempuan dan laki-laki bagaikan tumbuhan dan binatang, jika kaum perempuan memegang kekuasaan pemerintah, negara akan dalam bahaya, sebab bagi Hegel kaum sangat labil dalam mengambil keputusan. Seolah pendapat Hegel ini lebih objektif, melihat kondisi sekarang perempuan minim menduduki jabatan penting. Di Indonesia partisipasi perempuan di publik masih sangat minim. Tingkat keterwakilan perempuan di parlemen, lembaga-lembaga tinggi negara, pemeritah, partai politik dan juga di organisasi-organisasi publik lainnya yang masih minim. Menjadi kenyataan dari aktifitas generasi mudanya yang masih suka galau-galauan, sangat baper terhadap drama korea yang setiap hari mengajarkan patah hati di dukung oleh lagu melo. Belum lagi kaum hawa yang mudah sekali terkena virus konsumerisme virus selfiisme dengan kepala miring dan lidah menjulur seolah perumpuan memang harus di luruskan agar tidak miring dan perlu bimbingan.
Berbeda dengan Plato, Aristoteles kurang bijak memandang perempuan, ia menyatakan "perempuan adalah laki-laki yang belum lengkap". Perempuan harusnya dididik bukan mendidik, harusnya dipimpin bukan memimpin. Nada Hegel serupa dengan Aristoteles, bagi hegel perbedaan perempuan dan laki-laki bagaikan tumbuhan dan binatang, jika kaum perempuan memegang kekuasaan pemerintah, negara akan dalam bahaya, sebab bagi Hegel kaum sangat labil dalam mengambil keputusan. Seolah pendapat Hegel ini lebih objektif, melihat kondisi sekarang perempuan minim menduduki jabatan penting. Di Indonesia partisipasi perempuan di publik masih sangat minim. Tingkat keterwakilan perempuan di parlemen, lembaga-lembaga tinggi negara, pemeritah, partai politik dan juga di organisasi-organisasi publik lainnya yang masih minim. Menjadi kenyataan dari aktifitas generasi mudanya yang masih suka galau-galauan, sangat baper terhadap drama korea yang setiap hari mengajarkan patah hati di dukung oleh lagu melo. Belum lagi kaum hawa yang mudah sekali terkena virus konsumerisme virus selfiisme dengan kepala miring dan lidah menjulur seolah perumpuan memang harus di luruskan agar tidak miring dan perlu bimbingan.
Komentar
Posting Komentar