Kau sebagai ibu panutan bagi daerah lain, tingkahmu mencontohkan ketidak bijaksanaan, kau pertontonkan parade kebencian demi ambisi para elit yang haus kekuasaan, begitu rendahnya daya pikir manusia jalanan yang nenginjak-injak tengkukmu dengan arogan tanpa sungkan. Mereka menularkan virus ketidak warasan ditengah anak-anakmu.
Pawai angka membanjiri halamanmu, ibu, anak-anakmu dari daerah lain terpaksa ikut berteriak karena mendapat undangan yang beagenda kebencian, mereka terlena dengan jenggot dan atribut surgawi putih-putih suci entah dari mana mereka mendapatkannya.
Padahal sudah jelas ibu, engkau yang akan melaksanakan pesta demokratis secara jujur, adil tanpa ada intimidasi di coreng dengan kepongahan. Ibu, bagiku kemarin itu bukan pesta demokrasi, bukan pemilihan umum, tapi penyingkiran massal.
Pawai angka membanjiri halamanmu, ibu, anak-anakmu dari daerah lain terpaksa ikut berteriak karena mendapat undangan yang beagenda kebencian, mereka terlena dengan jenggot dan atribut surgawi putih-putih suci entah dari mana mereka mendapatkannya.
Padahal sudah jelas ibu, engkau yang akan melaksanakan pesta demokratis secara jujur, adil tanpa ada intimidasi di coreng dengan kepongahan. Ibu, bagiku kemarin itu bukan pesta demokrasi, bukan pemilihan umum, tapi penyingkiran massal.
Komentar
Posting Komentar