Sulaman kebinekaan telah terkoyak semacam rayap yang di beri cap Radikalisme, fundamentalisme, grombolanisme, aroganisme yang di bungkus agama, kemasan ini memang sangat menarik karena sanggup membangkitkan emosi massa yang tak soleh sekalipun bahkan untuk berwudlupun enggan.
Ditambah lagi racikan bumbu rasis yang mempunyai dendam historis sejak zaman kolonial, jurang pemisah digali semakin dalam dengan ejekan fisik maupun penguasaan ekonomis sampai mereka benar-benar menjadi sang "lian". Racikan ini memang sangat ampuh untuk mendapatkan simpati massa menjadi satu barisan. Takbir menjadi komando sepirit serentak untuk maju kedalam gelanggang. Ditambah lagi momen panas pilkada jakarta sebagai waktu yang pas melancarkan serangan.
Tempat ibadah dijadikan benteng pengobar semangat bela agama, dengan agen-agen pengkhutbah yang tak lagi memperdulikan arti kedamaian, alfanya prilaku yang bijaksana menjadi perwujudan arogansi untuk memuaskan hasrat kekuasaan yang tak lagi terbendungkan. Menurut filsuf Islam modern M Arkoun, Pertalian antara yang sakral dan kekerasan akan melahirkan bayi yang bernama fundamentalisme bahkan ekstremisme atas nama agama.
Racikan perpaduan antara hasrat kuasa dan agama cenderung akan menjadi otoritarian, hal ini sudah di analisis oleh Abdurrahman Al-Kawakibi.
Agama yang ramah dan politik yang seharusnya mengedepankan kepentingan umum menjadi hal yang wajib dibumikan agar persatuan dalam bingkai bineka tunggal ika dapat lestari dan dapat memutus pertalian antara yang sakral dan kekerasan.
Ditambah lagi racikan bumbu rasis yang mempunyai dendam historis sejak zaman kolonial, jurang pemisah digali semakin dalam dengan ejekan fisik maupun penguasaan ekonomis sampai mereka benar-benar menjadi sang "lian". Racikan ini memang sangat ampuh untuk mendapatkan simpati massa menjadi satu barisan. Takbir menjadi komando sepirit serentak untuk maju kedalam gelanggang. Ditambah lagi momen panas pilkada jakarta sebagai waktu yang pas melancarkan serangan.
Tempat ibadah dijadikan benteng pengobar semangat bela agama, dengan agen-agen pengkhutbah yang tak lagi memperdulikan arti kedamaian, alfanya prilaku yang bijaksana menjadi perwujudan arogansi untuk memuaskan hasrat kekuasaan yang tak lagi terbendungkan. Menurut filsuf Islam modern M Arkoun, Pertalian antara yang sakral dan kekerasan akan melahirkan bayi yang bernama fundamentalisme bahkan ekstremisme atas nama agama.
Racikan perpaduan antara hasrat kuasa dan agama cenderung akan menjadi otoritarian, hal ini sudah di analisis oleh Abdurrahman Al-Kawakibi.
Agama yang ramah dan politik yang seharusnya mengedepankan kepentingan umum menjadi hal yang wajib dibumikan agar persatuan dalam bingkai bineka tunggal ika dapat lestari dan dapat memutus pertalian antara yang sakral dan kekerasan.
Komentar
Posting Komentar