Umbaran mulai membaca Becoming Che beberapa hari sebelumnya, di bawah pohon mangga yang tak pernah berbuah depan kamar kos-kosannya. Lembar demi lembar ia baca dengan sungguh.
Kemudian Umbaran meninggalkan buku itu sejenak karena dia harus menghadiri diskusi penting perihal UKT yang dinilai regulasinya tidak tepat sasaran, membuat mahasiswa banyak yang terpaksa cuti, bukan karena malas mengantri di bank tapi karena meraka tidak mampu membayar.
Pro kontra mewarnai forum diskusi itu, hingga ahirnya pada titik kesimpulan yang harus disikapi, bahwa: pengelompokan UKT berdasarkan kemampuan ekonomi mahasiswa, atau pihak lain yang membiayainya. Seperti yang termuat dalam regulasi peraturan Mentri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Repulik Indonesia No 22 Tahun 2015 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal pada kampus ini dinilai serampangan, implementasinya tidak tepat sasaran ada yang tidak mampu mendapat UKT tinggi ada yang kaya mendapat jatah yang rendah, dan masih ada pungutan-pungutan liar yang dilakukan oleh pihak kampus. Dan juga, subsidi silang ini merupakan gaya baru dari komersialisasi pendidikan.
***
Siang itu matahari terasa di ujung ubun-ubun, terik yang membuncah membuat hiasan fatamorgana di atas aspal jalan Jogja—Solo. Pertigaan UIN, mahasiswa menyebutnya dengan Pertigaan REVOLUSI, dari pertigaan itulah harapan perubahan digantungkan, Panas yang membakar semangat Umbaran dan para mahasiswa untuk memulai langkah aksi dari pertigaan REVOLUSI menuju gedung rektorat. Teriakan, cacian, yel-yel—saling bersahutan menyaingi suara bising knalpot kendaraan yang hilir mudik seolah tak pernah habisnya—dilengkapi dengan kardus yang bertuliskan tuntutan-tuntutan dari tinta merah sebagai pernyataan sikap perlawanan kepada kampus putih yang menerapkan sistem UKT yang tidak tepat sasaran.
Sesampainya di gedung Rektorat Umbaran ditemani dua delegasi mahasiswa masuk ke dalam ruang Rektorat, mereka memaksa pihak rektorat untuk menemui massa aksi dan memberikan tanggapan, proses lobi begitu alot dengan alasan berbelit ala birokrat, ahirnya pihak rektoat mau menemui massa aksi. Dalam hal lobi dan debat Umbaran memang jagonya, ia berhasil membuat Wakil Dekan III (bagian kemahasiswaan) turun menemui massa aksi, dan ia berjanji akan memenuhi tuntutan-tuntutan.
Aksi ditutup dengan orasi Umbaran “Kalau kita ingin menata ulang, kita harus membuat kekacauan, kita sebagai mahasiswa jangan sampai mau di kadali birokrat kampus, kita harus tetap kritis dalam mengawal kebijakan-kebijakan kampus, mereka bukan Tuhan yang sabdanya selalu benar. Jangan pernah mundur dari perjuangan ini, sebab mundur adalah penghianatan”
***
Hari menjelang sore, Umbaran pulang kekosnya, ia mengambil buku Becoming Che yang sedari tadi tergeletak dikursi menunggu dijamah, Umbaran membukanya lagi di tempat favoritnya di depan kos tepat di bawah pohon mangga yang tak pernah berbuah, ia duduk dan membaca lembar demi lembar Becoming Che. Ia biarkan daya tarik alur cerita dan pembentukan karakter dalam buku itu tumbuh dalam dirinya. Seolah dia terlibat dalam gerilya, mengenakan topi bintang merah dan memimpin massa yang ada di desa-desa untuk mengepung kota. Terdengar bunyiHand Phone di dalam kamarnya.
“Aprendimos a quererte
desde la històrica
donde el sol de tu bravura
le puso cerco a la muerte.
Aquì se queda la clara
la entrañable transparencia
de tu querida presencia
Comandante Che Guevara”.
Lagu Hasta Siempre dari dering telepon membuyarkan konsentrasi Umbaran. Ia letakkan bukunya kemudian ia menganggat telpon.
“Assalamualaikum”, Umbaran membuka percakapan.
“Wa’alaikumussalam, piye le, kapan kamu wisuda?”, terdengar parau Ibu Umbaran tanpa menanyakan keaadaannya. Memang sejak usia kuliahnya memasuki usia semester 11 Ibu Umbaran hampir selalu menanyakan hal yang sama, “kapan wisuda?”, kata itu terdengar horor bagi dia yang usia semesternya menghadapi limit.
“Ibu tenang saja, dalam mencari ilmu kan butuh waktu yang lama buk (طُوْلِ زَمَانٍ), nanti pada waktunya akan aku kabarkan berita menggembirakan itu”, jawab Umbaran dengan mengutip bait terakhir syair dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim yang pernah ia dengar dari guru ngajinya dulu. Jawaban Umbaran cukup menangkan Ibunya yang semakin risau karena takut anaknya tak mampu menyelesaikan kuliah.
Sebelum menutup teleponnya Umbaran mengakhiri dengan mengatakan “Bu, doakanlah anakmu agar dapat belajar dan berjuang dengan penuh cita, ridhoi perjalanan hidupku, padamu aku selalu berbakti”.
Kemudian Umbaran kembali membaca buku itu dalam ketenangan sore jingga di kota pelajar. Duduk berselonjor di kursi—yang ia buat sendiri dari kayu-kayu bekas pembangunan gedung baru FEBI (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam) yang menggusur Panggung Demokrasi, oh ya sekarang mahasiswa sudah tak memiliki Panggung itu—bersandaran lengan kesukaannya, dengan punggung menghadap pintu—bahkan sekadar kemungkinan adanya gangguan akan membuatnya kesal—dibiarkannya tangan kirinya menggaruk berulang-ulang rambutnya yang tak gatal, seolah dia kesulitan memahami buku itu, atau ungkapan heran dan kagum sesok Che yang fotonya ia tempel di dinding kamar kos, dan Umbaran bersiap membaca bab-bab terakhir.
Tanpa susah-payah dia mengingat apa saja yang ia baca tadi terutama perihal kegigihan Che dalam memobilisir rakyat untuk melawan penindasan. Buku itu bisa dibilang langsung memukau Umbaran sejak mula.
Dia merasakan kesenangan yang nyaris keji seiring terpisahnya dia dengan benda-benda di sekitarnya sebaris demi sebaris, dan pada saat bersamaan merasakan kepalanya bersandar nyaman pada kursi kayu yang sandaranya ia desain tinggi dan agak miring agar terasa nyaman untuk bersandar.
Dikala ia asik membaca tak ketinggalan rokok lintingan selalu menemaninya, ia lebih suka menyebut rokoknya dengan namaBerdikari. Salah satu upaya dia dalam mengurangi sifat konsumtif, sebagai manifestasi dari sikap anti kapitalisme.
Di luar dibawah pohon mangga yang tak pernah berbuah, udara senja menari-nari membuat sore semakin nyaman dan syahdu. Umbaran terus melanjutkan buku itu. Kata demi kata menggambarkan semangat perjalanan Che, jiwa merdeka menapaki langkah perjalanan di Amerika Selatan, 7 juli 1953 Che menjelajah Bolivia, Peru, dan Ekuador, meluapkan gairah terhadap perjalanan dan sikap pemberang jiwa muda seraya menyingkap temuan-temuan tentang realitas sosial politik di Amerika Latin. Perjalanan Che membawa Umbaran terserap ke titik di mana imaji-imaji terbentuk dan berwujud dengan segenap warna dan gerak.
Kemudian Umbaran meninggalkan buku itu sejenak karena dia harus menghadiri diskusi penting perihal UKT yang dinilai regulasinya tidak tepat sasaran, membuat mahasiswa banyak yang terpaksa cuti, bukan karena malas mengantri di bank tapi karena meraka tidak mampu membayar.
Pro kontra mewarnai forum diskusi itu, hingga ahirnya pada titik kesimpulan yang harus disikapi, bahwa: pengelompokan UKT berdasarkan kemampuan ekonomi mahasiswa, atau pihak lain yang membiayainya. Seperti yang termuat dalam regulasi peraturan Mentri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Repulik Indonesia No 22 Tahun 2015 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal pada kampus ini dinilai serampangan, implementasinya tidak tepat sasaran ada yang tidak mampu mendapat UKT tinggi ada yang kaya mendapat jatah yang rendah, dan masih ada pungutan-pungutan liar yang dilakukan oleh pihak kampus. Dan juga, subsidi silang ini merupakan gaya baru dari komersialisasi pendidikan.
***
Siang itu matahari terasa di ujung ubun-ubun, terik yang membuncah membuat hiasan fatamorgana di atas aspal jalan Jogja—Solo. Pertigaan UIN, mahasiswa menyebutnya dengan Pertigaan REVOLUSI, dari pertigaan itulah harapan perubahan digantungkan, Panas yang membakar semangat Umbaran dan para mahasiswa untuk memulai langkah aksi dari pertigaan REVOLUSI menuju gedung rektorat. Teriakan, cacian, yel-yel—saling bersahutan menyaingi suara bising knalpot kendaraan yang hilir mudik seolah tak pernah habisnya—dilengkapi dengan kardus yang bertuliskan tuntutan-tuntutan dari tinta merah sebagai pernyataan sikap perlawanan kepada kampus putih yang menerapkan sistem UKT yang tidak tepat sasaran.
Sesampainya di gedung Rektorat Umbaran ditemani dua delegasi mahasiswa masuk ke dalam ruang Rektorat, mereka memaksa pihak rektorat untuk menemui massa aksi dan memberikan tanggapan, proses lobi begitu alot dengan alasan berbelit ala birokrat, ahirnya pihak rektoat mau menemui massa aksi. Dalam hal lobi dan debat Umbaran memang jagonya, ia berhasil membuat Wakil Dekan III (bagian kemahasiswaan) turun menemui massa aksi, dan ia berjanji akan memenuhi tuntutan-tuntutan.
Aksi ditutup dengan orasi Umbaran “Kalau kita ingin menata ulang, kita harus membuat kekacauan, kita sebagai mahasiswa jangan sampai mau di kadali birokrat kampus, kita harus tetap kritis dalam mengawal kebijakan-kebijakan kampus, mereka bukan Tuhan yang sabdanya selalu benar. Jangan pernah mundur dari perjuangan ini, sebab mundur adalah penghianatan”
***
Hari menjelang sore, Umbaran pulang kekosnya, ia mengambil buku Becoming Che yang sedari tadi tergeletak dikursi menunggu dijamah, Umbaran membukanya lagi di tempat favoritnya di depan kos tepat di bawah pohon mangga yang tak pernah berbuah, ia duduk dan membaca lembar demi lembar Becoming Che. Ia biarkan daya tarik alur cerita dan pembentukan karakter dalam buku itu tumbuh dalam dirinya. Seolah dia terlibat dalam gerilya, mengenakan topi bintang merah dan memimpin massa yang ada di desa-desa untuk mengepung kota. Terdengar bunyiHand Phone di dalam kamarnya.
“Aprendimos a quererte
desde la històrica
donde el sol de tu bravura
le puso cerco a la muerte.
Aquì se queda la clara
la entrañable transparencia
de tu querida presencia
Comandante Che Guevara”.
Lagu Hasta Siempre dari dering telepon membuyarkan konsentrasi Umbaran. Ia letakkan bukunya kemudian ia menganggat telpon.
“Assalamualaikum”, Umbaran membuka percakapan.
“Wa’alaikumussalam, piye le, kapan kamu wisuda?”, terdengar parau Ibu Umbaran tanpa menanyakan keaadaannya. Memang sejak usia kuliahnya memasuki usia semester 11 Ibu Umbaran hampir selalu menanyakan hal yang sama, “kapan wisuda?”, kata itu terdengar horor bagi dia yang usia semesternya menghadapi limit.
“Ibu tenang saja, dalam mencari ilmu kan butuh waktu yang lama buk (طُوْلِ زَمَانٍ), nanti pada waktunya akan aku kabarkan berita menggembirakan itu”, jawab Umbaran dengan mengutip bait terakhir syair dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim yang pernah ia dengar dari guru ngajinya dulu. Jawaban Umbaran cukup menangkan Ibunya yang semakin risau karena takut anaknya tak mampu menyelesaikan kuliah.
Sebelum menutup teleponnya Umbaran mengakhiri dengan mengatakan “Bu, doakanlah anakmu agar dapat belajar dan berjuang dengan penuh cita, ridhoi perjalanan hidupku, padamu aku selalu berbakti”.
Kemudian Umbaran kembali membaca buku itu dalam ketenangan sore jingga di kota pelajar. Duduk berselonjor di kursi—yang ia buat sendiri dari kayu-kayu bekas pembangunan gedung baru FEBI (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam) yang menggusur Panggung Demokrasi, oh ya sekarang mahasiswa sudah tak memiliki Panggung itu—bersandaran lengan kesukaannya, dengan punggung menghadap pintu—bahkan sekadar kemungkinan adanya gangguan akan membuatnya kesal—dibiarkannya tangan kirinya menggaruk berulang-ulang rambutnya yang tak gatal, seolah dia kesulitan memahami buku itu, atau ungkapan heran dan kagum sesok Che yang fotonya ia tempel di dinding kamar kos, dan Umbaran bersiap membaca bab-bab terakhir.
Tanpa susah-payah dia mengingat apa saja yang ia baca tadi terutama perihal kegigihan Che dalam memobilisir rakyat untuk melawan penindasan. Buku itu bisa dibilang langsung memukau Umbaran sejak mula.
Dia merasakan kesenangan yang nyaris keji seiring terpisahnya dia dengan benda-benda di sekitarnya sebaris demi sebaris, dan pada saat bersamaan merasakan kepalanya bersandar nyaman pada kursi kayu yang sandaranya ia desain tinggi dan agak miring agar terasa nyaman untuk bersandar.
Dikala ia asik membaca tak ketinggalan rokok lintingan selalu menemaninya, ia lebih suka menyebut rokoknya dengan namaBerdikari. Salah satu upaya dia dalam mengurangi sifat konsumtif, sebagai manifestasi dari sikap anti kapitalisme.
Di luar dibawah pohon mangga yang tak pernah berbuah, udara senja menari-nari membuat sore semakin nyaman dan syahdu. Umbaran terus melanjutkan buku itu. Kata demi kata menggambarkan semangat perjalanan Che, jiwa merdeka menapaki langkah perjalanan di Amerika Selatan, 7 juli 1953 Che menjelajah Bolivia, Peru, dan Ekuador, meluapkan gairah terhadap perjalanan dan sikap pemberang jiwa muda seraya menyingkap temuan-temuan tentang realitas sosial politik di Amerika Latin. Perjalanan Che membawa Umbaran terserap ke titik di mana imaji-imaji terbentuk dan berwujud dengan segenap warna dan gerak.
Komentar
Posting Komentar