Bulan ini adalah bulan
suci nan mulia dimana setiap perbuatan baik akan mendapat pahala berlipat
ganda. Bulan perlombaan untuk amar ma’ruf nahi mungkar (perintah akan kebaikan
dan mencegah kemungkaran), mengajak berbuat baik dengan ceramah lewat spiker
masjid, lewat radio, koran bahkan televisi. Mencegah kemungkaran dengan
menyuruh warung-warung makan kecil bukan besar, dilarang berdagang, bahkan tak
segan-segan menyita isi warung. Beruntung banyak orang yang simapatik, donasi
mengalir dari orang-orang yang simpatik bahkan dari orang no satu di negri ini,
padahal fenomena itu terjadi bukan hanya di bulan ini, PKL digusur dengan
alasan ketertiban, dimana simpati mereka? Sungguh mulia bulan ini, karena
manusiapun mendadak berhati mulia. Bulan ini adalah bulan dimana orang yang
tidur akan mendapatkan pahala, dari itu ada yang memilih tidur dari pada
terjaga tetapi melakukan perbutan tercela. Bulan ini adalah bulan
penuh alasan musafir, lupa niat, lupa makan dijadikan senjata untuk
melegitimasi perbuatannya (makan disiang hari). Alasan kesiangan sehingga para
pegawai negri telat ngantor, alasan lemes sehingga pegawai negri jam ngantornya
di pangkas. Bulan ini adalah bulan
dimana menjamurnya pedagang menjualan yang seger-seger di pinggir-pinggir
jalan. Muda-mudi bertebaran disore hari memburu yang manis untuk makan diwaktu
senja. Ada yang mampu makan dengan yang manis ada juga yang hanya mampu makan
dengan nafsu. Bulan ini adalah bulan
dimana harga-harga bahan pokok mendadak membumbung tinggi. Bulan dimana masjid-masjid
mendadak ramai, barisan jama’ah akan luber sampai halaman walaupun itu terjadi
hanya diawal bulan dan penutup bulan. Bulan ini adalah bulan dimana artis-artis
mendadak berhijab, tayangan-tayangan bernafaskan surgawi mewarni hampir seluruh
media, tayangan yang mampu menyihir dan menggoda manusia, sekarang setan tak
perlu capek-capek untuk membisiki manusia untuk menjadi temannya, karena sudah
di propagandakan oleh agen iklan dan tayangan-tayangan yang menggiyurkan dan
menarik sahwat. Tayangan hedonis di bungkus dengan balutan sar’i menjadi trend
yang cukup menjamur kususnya di bulan ini. Tayangan tersebut berpijak pada
logika pasar didukung oleh model, artis, da’i, dan lain-lain. Tayangan yang
ditampilkan pun bukannya meningkatkan pemahaman terhadap keagaamaan, mememupuk
spiritualitas. Melainkan membuat manusia yang menononton terjerat dengan sikap
konsumerisme yang menguntungkan pasar. Dapat dilihat dari perempuan cantik dengan
gaya hijab nan modis, wajah polesan, dan sikap anggun. Perempuan dijadikan
objek yang disuguhkan agar manusia tertarik dengan prodak yang ia gunakan.
Hijab yang semula tuntutan sari’at dan sebagai syi’ar kini mengalami pergeseran
orientas yang hanya melulu komoditas. Penampilan dan gaya lebih penting dari
esensi berhijab. Budaya citra yang mampu menjungkirbalikkan realitas dalam
permanin gaya. Gaya hidup menjadi sihir yang mampu mengubah nilai-nilai Islami
menjadi nilai komoditi.
Luthfi ‘Afif *) Dalam berita baru-baru ini sering muncul kejadian pararel, seperti pemboman di paris, isu pemboman pada acara tahun baru, sampai pemboman di jakarta. Kejadian itu seolah-olah sudah menjadi agenda yang terkonsepkan dengan rapi, di payungi dalam agenda teror yang katanya si pengamat di lakukan oeleh ISIS. Sebelumnya ada juga berita yang termasuk dalam rangkaian paralel dalam kejadian yang membahayakan ketika selfi, dari mulai selpi di bibir kawah merapi, ditebing yang curam, sampai di kebun bunga yang berakibat kerusakan. Bentuk rentetan ini walaupun tidak saling terkoordinasikan antara satu dengan yang lain, akan tetapi peristiwa ini tersatukan oleh platfrom yaitu narsisme. Kedua berita tersebut mempunyai kesamaan yaitu; sama-sama caper (pengen exis), sama-sama kurang kerjaan, sama-sama mulgoh (pekerjaan yang sia-sia), dan sama-sama merugikan orang lain. www.nyunyu.com Coba mari sama-sama kita analisa dengan kacamata plus, pertama kesamaan tent...
Komentar
Posting Komentar