Iqbal kholid *)
Sekolah
itu Candu Merupakan buku karya Roem Topatimasang tahun 1998. Pertama kali
diterbitkan oleh Pustaka Belajar hingga delapan cetakan. Setelah pembicaraan
dengan penulis dan penerbit pustaka belajar hak penerbitan dialihkan ke
INSISTPress. Buku ini menceritakan tentang arti sekolah, kritikan terhadap
sekolah yang ada saat ini hingga gambaran problema sekolah masa kini. Tulisan
pertama dari buku ini membahas tentang hakikat sekolah. Kata sekolah berasal
dari bahasa yunani dari kata skhole, scola, scolae, atau schola yang berarti
‘waktu luang’ atau ‘waktu senggang’.
Dulunya orang yunani kuno mengisi waktu luangnya dengan mengunjungi seorang
yang memiliki ilmu (pintar) untuk belajar sesuatu yang dirasa perlu untuk
dipelajari. Hal ini berkembang hingga mendunia. Sampailah terbentuk sebuah
institusi pendidikan yang bernama SEKOLAH, dengan segala infrastruktur dan
suprastrukturnya. Sekolah semakin menjamur dimana-mana dengan nama dan bidang
yang berbeda-beda pula. Tetapi dalam sistem dan kebijakan yang sama. Seperti
kewajiban berpakaian yang seragam, dari baju, celana hingga kaos kaki dan
sepatu pun seragam. Tak kalah menggelikan sampai-sampai kewajiban berseragam
ini meliputi segala hal. Mata pelajaran seragam, bahasa dan cara bicara
seragam, tingkah laku seragam, dan lama-kelamaan wajib seragam pula isi kepala
bahkan isi hati siswanya.
![]() |
Judul : Sekolah Itu Candu
Pengarang : Roem Topatimasang
Penerbit : INSISTPress
Tahun terbit : cetakan pertama juli 2007
Tebal halaman : i-xx + 178 halaman
Ukuran buku : 13 x 19 cm
ISBN : 979-345-85-6
Roem
menggambarkan bahwa sekolah yang ada saat ini telah menjauh dari baraknya,
apabila dahulu sekolah dijadikan sebagai kegiatan untuk mempelajari sesuatu
yang dirasa perlu. Sekarang sudah tidak lagi seperti itu, sekolah hanya
dijadikan sebagai jembatan untuk menuju pekerjaan. Segala hal dipelajari
disekolah, tetapi bingungnya tidak satupun berhubungan dengan apa yang siswa
butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa hal ini terjadi ? sekolah layaknya
berganti menjadi lahan bisnis (komersialisasi). Tak jauh beda seperti
perusahaan. Sekolah-sekolah non-formal yang menyediakan pendidikan tanpa adanya
ijazah, seragam dan waktu belajar yang tentu tidak diminati lagi oleh
masyarakat. Mereka lebih condong kepada sekolah yang sifatnya memiliki prospek
bagus kedepannya, mempunyai label yang terpandang, dsb. Tak kalah pentingnya
tentang sistem pendidikan yang ada. Kegiatan belajar di sekolah dalam setiap
jenjangnya diukur dalam waktu yang relatif singkat melalui UN, 3 hari untuk SD,
4 hari untuk SMP dan SMA.Hal ini tak selaras dengan pendidikan yang telah
berjalan, apalagi ditambah dengan tidak meratanya pendidikan di seluruh wilayah
Indonesia. Siswa yang bersekolah di kota tentunya sangat mudah untuk lulus
bahkan mendapat nilai yang maksimal. Tetapi bagaimana dengan siswa yang
bersekolah di pelosok desa, boro-boro
mendapat nilai yang maksimal, untuk lulus saja susahnya minta ampun. Mereka
tidak mendapat pendidikan seperti siswa yang dikota, sarana-prasarana tidak
memadai tetapi disama-ratakan dalam penentuan kelulusannya.
Zaman
saat ini, masyarakat khususnya kaum pemuda lebih tertarik pada gaya hidup
modern. Mereka berbondong-bondong pergi untuk mengantri sebuah audisi yang di sediakan
oleh berbagai televisi swasta maupun nasional. Mereka rela berpanas-panasan
bahkan hingga pingsan hanya untuk sebuah tujuan yaitu “Terkenal”. Tampak dalam
salah satu berita mengabarkan bahwa, bupati pun sebagai pemerintah memberikan
jalan bahkan mendukung pemudanya untuk menjalani hal itu. Sampai-sampai
masyarakat dikendalikan oleh bupati hanya untuk memberikan support atau
dukungan berupa sms kepada pemuda daerah yang berhasil lolos dalam audisi.
Cobalah tengok ketika ada siswa yang berhasil menjuarai lomba olimpiade
internasional misalnya, Tampak sedikit sekali apresiasi pemerintah terhadap
siswa tersebut. Hal ini sangat ironis tentunya, belum lagi ketika ada siswa
yang mencoba mengeluarkan aspirasinya melalui sebuah karya tangannya sendiri.
Banyak sekali yang tidak diperhatikan bahkan ditolak habis-habisan oleh
pemerintah. Sungguh, pendidikan telah hilang dari fungsinya. Ia hanya dijadikan
sebagai formalitas untuk meraup keuntungan, dibuat sebagai kebutuhan utama
tetapi tidak mempunyai fungsi yang nyata. Roem menawarkan tentang sekolah masa
depan diakhir pembahasan bukunya, melalui Sukardal:
tokoh tunggal yang menemukan naskah kuno di Museum Bank Naskah Nasional. Sekolah yang
langsung terjun dalam realita kehidupan.Itulah idealnya.
Buku
ini tidak begitu tebal dengan bahasa yang mudah dipahami. Apalagi ditambah
dengan gambar karikatur yang memudahkan pembaca untuk memahami tema yang sedang
dibahas. Selain itu, dialog cerita yang diberikan juga lebih menyederhanakan
tema yang sedang dikaji.Tema yang dibahas pun sifatnya mendasar sehingga
membuat menarik untuk dibaca.
Tetapi
sedikit mengkritisi buku ini. Sampul yang digunakan kurang menarik bagi
pembaca, dalam hal warna terlalu layu dan kurang memberi semangat dari isi
buku.
Buku
yang berjudul “Sekolah itu Candu” karangan Roem topatimasang ini cocok untuk dibaca
kalangan praktisi, pakar pendidikan, penyelenggara sekolah atau pemerintah
sampai kalangan terpelajar dan orang yang tidak bersekolah sekalipun. Karena
buku ini dibawa dengan bahasa yang mudah dipahami serta isinya yang lebih
mendasar.

Komentar
Posting Komentar