Langsung ke konten utama

Kamar ~kontemplasi~ mandi

Waktu yang paling damai adalah sendiri dikamar mandi, di temani rokok sebatang sambil mendengarkan gemricik air keran yang riuh harmoni. Walaupun bau sampah organik menyengat bisa terabaikan dengan asap tembakau yang pekat.

Kedamaian ini tak bisa ditukar dengan kemewahan apapu, sok. Saat ngeden sambil merefleksi semua gejala yang terjadi pada semesta. 

Diruang inilah gagasan ini bisa mengalir deras seperti air kran, dan lancarnya kencing sekaligus lancarnya boker akibat mengkonsumsi buah pepaya, lancar tanpa hambatan.

Aku bisa bisa menyebutnya ruang paling ideal untuk berkontemplasi, tapi jangan sekali-kali berkontemplasi tentang tuhan disini, tak ber ahlaq.

Kamar mandi yang terstigma menjadi tempat sembunyi segala begejil dan antek-anteknya, barangkali kurang kerjaan ada tempat yang lebih luas dan nyaman kenapa mereka harus dikamar mandi, harusnya di mol disana banyak diskon dan mbak-mbak cantik yang terhipnotis oleh konsumerisme.

Jika kamar mandi menjadi tempat mewah untuk mengalirnya gagasan, janganlah sekalai-kali kau kotori dengan coli, itu tak beradab. Manusia postmo tak akan melakukan hal yang menjijikkan seperti itu, dia tak akan melakukan perbuatan nista dengan tangannya sendiri, dia akan seperti dalang yang selalu dapat meminjam tangan ke dua, bahkan dia bisa pake invisible hand lewat sauna dan pijit plus-plus. Tanpa harus memakai tangannya sendiri. Perbuatan dengan tangan sendiri hanya pantas dilakukan oleh barisan proleter yang selalu diselimuti kesusahan disetiap lini, hanya ber imaginasi dan tangan sendiri tempat pelampiasan kepuasan. Bukankah ketika dunia nyata sulit untuk digapai dengan segala macam carut marutnya, impian menjadi pelarian terahir, yah begitulah nasib barisan melarat.

Komentar

Posting Komentar